Samarinda (ANTARA Kaltim) - Air merupakan salah satu kebutuhan yang vital dan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan mahluk hidup sehari-hari. Namun, apa jadinya ketika air menjadi barang yang langka untuk didapatkan. Hal itulah yang dialami oleh warga Palaran Samarinda.

 â€œSaya dan semua warga yang tinggal di Palaran sudah delapan hari merasakan air PDAM tidak mengalir, ini benar-benar merupakan masalah serius karena akibatnya mengganggu berbagai kegiatan sehari-hari,” ucap Anggota DPRD Kaltim Safuad.

Menurutnya, hingga saat ini tidak ada penjelasan dari PDAM terkait terhentinya pasokan air tersebut. Padahal warga sudah dibebani kenaikan tarif dasar listrik dan PDAM.

 â€œMasyarakat terus dituntut bayar tepat waktu. Jika lambat, terancam dicabut dan denda. Warga hanya menjadi sapi perahan. Kalau sudah begini, dimana tanggung jawabnya,” tegas Safuad.

Politikus PDIP itu menduga adanya keterkaitan antara kegiatan event berskala nasional di Stadion Palaran dengan tidak mengalirnya air ke permukiman warga.

Jika ini benar maka menunjukkan arogansi pemerintah dengan instansi terkait yang lebih mengedepankan citra dan nama baik dari pada memperhatikan apa yang menjadi kebutuhan rakyatnya.

Jika kondisi ini terus berlarut-larut, katanya, maka dikhawatirkan masyarakat akan melakukan tidakan berunjukrasa hingga melakukan aksi-aksi anarkis. Tentu ini tidak diharapkan, akan tetapi besar kemungkinannya mengingat air sangatlah dibutuhkan termasuk bagi usaha kecil dan menengah.

“Tidak hanya kebutuhan rumahan saja yang terganggu akan tenti juga industri rumahan hingga warung  makan. Itu artinya selain mempersulit juga menggangu kondisi perekonomian di Palaran. Belum lagi ditambah berapa harus mereka mengeluarkan biaya lebih untuk membeli air lewat penjual jasa air keliling atau terpaksa mencari sumber-sumber mata air. Bayangkan berapa kerugian yang harus ditanggung masyarakat,” sesalnya. (Humas DPRD Kaltim/adv/bar/dhi/met)
 




Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026