Samarinda (ANTARA News Kaltim) - Sebanyak 123 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Wiyata Husada Samarinda (WHS) diwisuda dalam Sidang Senat Terbuka di Hotel Bumi Senyiur, Selasa.

ke-123 wisudawan yang diwisuda dalam Sidang Senat Terbuka yang dipimpin Ketua STIKES WHS, Anik PUji Rahayu, terdiri dari 23 wisudawan S1 Keperawatan Reguler Transfer, 60 wisudawan S1 Keperawatan Reguler, 30 wisudawan D3 Kebdanan dan 10 wisudawan D3 Analis Kesehatan.

Acara wisuda STIKES WHS tersebut antara lain dihadiri oleh Wakil Ketua DPRD Kaltim Yahya Anja, Ketua Yayasan Wiyata Husada Samarinda, Mujito Hadi, serta sejumlah pejabat Dinas Kesehatan Pemprov Kaltin dan Pemkot Samarinda.

Dalam sambutannya, Ketua STIKES WHS Anik Puji Rahayu menyatakan STIKES WHS yang berdiri sejak 2008 kini telah memperoleh akreditasi dengan nilai C untuk tiga program studi sejak November 2011.

"Kita terus membenahi diri dengan memperkuat kualitas tenaga pengajar. STIKES WHS kini memiliki 26 dosen yang 60 persen di antaranya berpendidikan S2 dan 40 persen lainnya masih S1," katanya.

Namun ke depan, STIKES WHS akan mengirimkan enam dosennya untuk menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, antara lain ke Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Gajah Mada Ygyakarta, Universitas Brawijaya Malang, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.

"Kita berharap pada 2016, STIKES WHS akan memperoleh akreditasi B atau bahkan A," ujarnya yang disambut tepuk tangan mahasiswa, orangtua dan undangan yang hadir.

Hingga saat ini atau sampai tahun keempat sejak berdiri, STIKES WHS memiliki 900 mahasiswa, di mana sebanyak 774 mahasiswa di antaranya masih menjalani kuliah.

Puji juga menyampaikan terimakasihnya kepada DPRD dan Pemprov Kaltim yang telah membantu mengucurkan dana pembangunan Gedung STIKES WHS yang baru di Jalan Kadrie Oening yang telah diresmikan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pada Juli 2012.

Sebelum wisuda berlangsung, salah seorang Dosen STIKES WHS, Aniah Rita, menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Program MDG's dalam Usaha Menurunkan Kematian Ibu dan Bayi di Kalimantan Timur".

Dalam orasinya, Aniah Rita meminta Pemprov dan DPRD Kaltim untuk membuat aturan yang memperluas pendelegasian wewenang terhadap bidan di daerah terpencil serta perlunya pelatihan khusus bagi para bidan atau tenaga kesehatan yang akan ditugaskan di daerah terpencil di Kaltim.

Selain itu, Aniah Rita juga mengharapkan agar Pemprov Kaltim memberikan penghargaan kepada para bidan yang bertugas di tempat terpencil dalam bentuk insentif sebagaimana pemberian insentif bagi para guru yang telah bersertifikasi.  (*)

Pewarta:

Editor : Arief Mujayatno


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2012