Balikpapan (Antaranews Kaltim) - PT Angkasa Pura (AP) I menawarkan sejumlah insentif bagi maskapai penerbangan yang mau membuka rute baru atau menambah frekuensi penerbangan dari bandara-bandara yang dikelolanya.

"Insentif berupa pembebasan biaya pendaratan (landing fee) selama setahun penuh untuk rute baru domestik, kecuali di Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali, Djuanda Surabaya, dan Adisutjipto, Yogyakarta,” papar Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT AP I Devi Suradji di Balikpapan, Senin.

Selain itu juga ada pembebasan biaya landing fee selama setahun penuh untuk rute baru internasional, kecuali di Bandara Ngurah Rai dan Adisutjipto.

Biaya landing fee sebuah pesawat di Bandara Sepinggan di Balikpapan, menurut General Manager PT AP I Sepinggan Farid Indra Nugraha,  adalah sekitar Rp3 juta. "Jadi menghematnya cukup banyak,” kata Farid. Apalagi kalau frekuensi di rute baru itu cukup kerap.

Untuk penambahan jadwal baru domestik, landing fee-nya didiskon 50 persen untuk , kecuali di Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar yang diskonnya 25 persen saja.  Diskon 50 persen juga diberikan untuk landing fee rute lama jadwal baru penerbangan internasional, kecuali di Ngurah Rai dan di Adisutjipto.

"Semua insentif ini untuk meningkatkan trafick penumpang dan pergerakan pesawat udara,” kata Suradji. Kemudahan di sektor tranportasi itu diharapkan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi, karena orang dan barang bergerak lebih cepat dan lebih efisien. Bagi Angkasa Pura I, pembebasan dan diskon 50 persen ini juga berarti mempertahankan jaringan rute yang sudah ada.

PT AP I mengelola 13 bandara di Indonesia bagian tengah dan timur. Bandara di Kalimantan, yaitu Bandara Sepinggan di Balikpapan, Bandara Syamsuddin Noor di Banjarmasin, di Sulawesi Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar, dan Sam Ratulangie di Manado.

Di Papua, Angkasa Pura I mengelola Bandara Frans Kaisiepo di Biak, di Maluku Bandara Pattimura di Ambon, Bandara El Tari di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Bandara Lombok Praya di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar, Bali.

Di Jawa, dibawah manajemen Angkasa Pura adalah  Bandara Djuanda di Surabaya, Bandara Ahmad Yani di Semarang yang renovasinya baru diresmikan Presiden Joko Widodo, Bandara Adisutjipto di Yogyakarta, dan Bandara Adi Soemarmo di Solo.

 Di sisi maskapai, pembukaan rute baru atau penambahan jadwal di rute yang sudah ada bergantung kepada demand atau jumlah penumpang yang bisa diangkut di rute tersebut.

 "Utamanya adalah kalau jumlah penumpangnya cukup signifikan, kita bisa lakukan penambahan jadwal di rute yang sudah ada, atau buka baru kalau memang belum ada. Bisa juga dikombinasikan jadwalnya dengan rute lain, bisa diganti pesawatnya dengan yang lebih kecil atau lebih besar kapasitasnya agar efisien, “ jelas Deputi Manajer Lion Air Balikpapan Rachimsyah.

Karena pertimbangan demand itu, kata Rachimsyah, Lion masih terus mengkaji ulang pembukaan rute ke Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia  dari Balikpapan yang rencananya menggunakan pesawat ATR-72. Demikian juga pembukaan rute ke pedalaman seperti ke Melak, Kutai Barat, yang selama ini dilayani penerbangan perintis dan penerbangan bersubsidi.

"Khusus bandara di pedalaman, selain jumlah penumpangnya, juga kita harus tahu di bandara tujuan ada cukup bahan bakar isi ulang atau tidak,” kata Rachim lagi.  (*)

 

 

Pewarta: Novi Abdi

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2018