Samarinda (Antaranews Kaltim) - Ribuan pengemudi ojek daring (dalam jaringan) di Kota Samarinda, Kaltim, menggelar demonstrasi di depan DPRD Kaltim guna menuntut persamaan tarif antaraplikator agar terjadi persaingan sehat sesama pengemudi ojek daring.

"Dulu ketika hanya Gojek yang beroperasi di Samarinda, pendapatan kami cukup baik, namun ketika masuk Grab yang biayanya lebih murah sehingga banyak pelanggan kami yang beralih, makanya kami ingin diberlakukan tarif yang sama," ujar Sekjen Bubuhan Gojek Samarinda Irvan Susanto di Samarinda, Selasa.

Akibat persaingan usaha ini, kemudian manajemen Gojek juga menurunkan biaya aplikasi namun biayanya justru dibebankan kepada pengemudi yang merupakan mitra kerja aplikator, sehingga pemberlakuan ini jelas menurunkan pendapatan semua pengemudi Gojek.

Dulu, katanya, ketika awal-awal penerapan aplikasi baru dan belum ada pesaing, ketika mengantar penumpang dalam jarak dekat dengan tarif Rp5.000, maka pihak manajemen atau aplikator hanya memotong Rp1.000, sehingga pengemudi masih bisa mengantongi Rp4.000.

Namun kini, tambahnya, pemotongan jauh lebih tinggi yang mencapai 50 persen, misalnya untuk mengantar penumpang dengan jarak agak jauh bertarif Rp8.000, maka aplikator akan memotong biaya mencapai Rp4.000 (50 persen), sehingga pengemudi Gojek tinggal hanya menerima separuhnya.

Pihaknya melihat pemotongan penghasilan yang mencapai 50 persen ini karena adanya aplikator lain yang lebih murah memberlakukan tarif, sehingga manajemen Gojek juga tidak mungkin menaikkan tarif, namun membebankan biayanya kepada pengemudi.

Di sisi lain, ia juga mengeluhkan tentang menurunnya pendapatan per hari akibat banyaknya pengemudi ojek yang bergabung ke Gojek maupun Grab, karena dulu di Samarinda hanya ada 4.000 pengemudi Gojek namun sekarang lebih dari 8.000 pengemudi.

Sedangkan untuk pengemudi ojek yang tergabung di Grab saat ini jumlahnya ada sekitar 4 ribu orang, sehingga total jumlah pengemudi ojek daring di Samarinda saat ini ada di kisaran 12.000 orang.

"Dulu kami para Gojek ini dalam sehari bisa mengantongi penghasilan antara Rp400.000 sampai Rp500.000, namun sekarang mencari rezeki Rp80.000 sehari saja sulit, karena selain jumlah pengemudinya meningkat tajam juga karena pemberlakuan potongan dari aplikator yang terlalu tinggi," ucap Irvan. (*)

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2018