Samarinda (ANTARA Kaltim) -  The Nature Conservancy (TNC), organisasi konservasi yang fokus pada pelestarian lahan dan perairan, mendukung langkah warga Kampung Long Duhung di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melakukan kerja sama dengan perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan.

"Warga Long Duhung di Kecamatan Kelay berkomitmen mengelola hutan secara lestari guna mengurangi kerusakan dan penggundulan hutan, makanya TNC mendukung pola kemitraan dengan perusahaan pemegang HPH," ujar Senior Manager TNC Berau Saipul Rahman melalui keterangan tertulis yang diterima Antara di Samarinda, Selasa.

Long Duhung merupakan salah satu kampung pendampingan TNC sejak beberapa tahun lalu, yakni upaya pengembangan strategi dan proses pelibatan masyarakat secara aktif dalam mengelola hutan dan sumber daya alam secara lestari.

Ia melanjutkan, ketika Wakil Bupati Berau Agus Tamtomo melakukan kunjungan dadakan ke Kampung Long Duhung pada Jumat (14/4), warga setempat juga menanyakan status usulan skema kemitraan warga dengan perusahaan pemegang HPH, karena mereka ingin lahan perhutanan tidak rusak.

Kunjungan dadakan Agus Tamtomo ke Long Duhung didampingi oleh Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Berau Barat, Hamzah, dan Senior Manager TNC Berau Saipul Rahman.

Menanggapi pertanyaan dan keluhan warga, Hamzah mengatakan usulan skema Kemitraan Perhutanan Sosial Hutan Wungun seluas 1.400 hektare dengan perusahaan HPH masih dalam proses.

"Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan perusahaan pemegang HPH untuk tindak lanjut penyelesaian usulan ini," ujar Hamzah.

Pada kesempatan itu, Agus Tamtomo mengatakan kunjungan dadakan ini merupakan upaya mengenal warga lebih dekat, karena dirinya ingin warga menemuinya secara alami guna melihat kondisi kampung apa adanya, tidak perlu seremonial.

Kunjungan Wabup beserta rombongan kala itu ditemui Kepala Kampung Long Duhung Misak Lungui, Kepala Adat Semion, dan beberapa warga setempat.

Dalam dialog dengan Wabup, warga banyak bercerita tentang kondisi desa, salah satu masalah yang terungkap adalah kegagalan panen yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

"Akibat dari kegagalan panen, maka Alokasi Dana Kampung dari APBD Berau tahun ini kami gunakan membuat sawah insentif seluas 4 hektare," kata Misak.

Sawah itensif merupakan lumbung cadangan dari hasil padi gunung yang selama ini dilakukan warga setempat. Bercocok tanam padi gunung sekarang memberikan hasil yang tidak tentu akibat perubahan iklim.

"Saya beri apresiasi sikap tanggap darurat warga dalam mengatasi potensi rawan pangan. Saya berharap Alokasi Dana Kampung yang nilainya Rp2 miliar lebih ini bisa digunakan dengan tepat demi peningkatan kesejahteraan warga," ujar Agus.(*)

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2017