Jakarta (ANTARA News) - Kasus pelecehan seksual anak kembali merebak di Tanah Air seiring terkuaknya video dan foto-foto korban di media sosial Facebook belum lama ini. Menanggapi hal ini, praktisi pendidikan, Najelaa Shihab, menilai pencegahan menjadi hal paling utama agar tak ada lagi anak-anak yang menjadi sasaran kaum pedofil.

"Kekerasan seksual makin sering terjadi di sekeliling kita. Karena pencegahan adalah yang paling utama," ujar dia kepada ANTARA News, Jumat. Bagaimana pencegahannya? Dia membagikan sejumlah caranya: 

1. Biasakan untuk mengikuti kata "tidak" dan "stop" dari anak. Misalnya saat ia menolak dicium atau minta berhenti saat digelitiki. Apakah anak belajar mengendalikan dan menghormati kenyamanan tubuhnya akan ditentukan oleh reaksi orangtua. 

Jangan bilang "sedikit saja", atau "masak gak mau dicium". Bayangkan bila kalimat yang sama diucapkan orang yang berbahaya. 

2. Contohkan anak sejak dini untuk membedakan bagian tubuh yang aman dan tidak aman untuk disentuh. Tunjukan sentuhan aman saat menjabat dan mencium tangan, tidak pada sembarang orang. Lalu jelaskan sentuhan tidak aman saat memegang bagian tubuh yang tertutup rapat. 

3. Biasakan anak untuk mempercayai intuisinya terhadap bahaya. Ada situasi dimana anak merasa khawatir saat bertemu orang tertentu atau melewati jalan baru. Kemudian, jangan larang anak mendengarkan yang dirasakan. 

Anjurkan anak berpikir cara untuk lebih berhati-hati, menunggu sampai ada orang yang menyeberang berbarengan, tidak duduk di taksi sebelum orangtua masuk duluan, dan seterusnya. 

4. Latih secara spesifik kemampuan anak menghadapi bahaya di tempat umum. Misalnya berteriak "tolong" dan bukan "bunda/mama" akan membuat orang disekeliling lebih waspada.

Kemudian, memperhatikan letak pintu dan stop kontak setiap masuk ke ruangan baru, dan berbagai teknik sederhana lainnya. 

5. Bangun secara perlahan jaringan sosial Jaringan ini bisa lebih dari satu orang yang ikut menjaga keamanan anak - seperti nenek dan kakak yang bisa menjadi tempat bercerita. Kenyataan yang menyedihkan tapi sering terjadi, orangtua seringkali bukan pihak yang tahu pertama tentang berbagai hal, sehingga anak perlu beberapa figur lain yang bisa membela dia.

6. Ajarkan anak tentang rahasia, apa informasi yang boleh disembunyikan dari orangtua, dan mana yang harus diceritakan walaupun diminta seseorang untuk tidak membocorkannya.

"Rahasia baik, itu kejutan yang kalau ibu tahu pasti senang -- misalnya hadiah ulangtahun. Rahasia buruk bila bikin ketakutan dan malu kalau nanti ketahuan ibu," tutur dia. 

7. Tumbuhkan disiplin diri anak tanpa ancaman dan sogokan. Pelaku kekerasan seksual dengan sengaja memilih anak-anak rentan yang mudah ketakutan, kecanduan pujian dan mencari imbalan untuk melakukan sesuatu. 

8. Pelaku kekerasan biasanya orang yang dikenal, menggunakan teknik "perawatan" untuk mendekatkan diri ke anak dan orangtua. 

Oleh karena itu, biasakan untuk terbuka dengan anak tentang orang-orang di sekitar. Ajak anak mengobservasi dan peduli pada perubahan perilaku siapapun di lingkungan. "Orangtua bisa memulai percakapan tentang pengalamannya dalam pertemanan," kata Najeela. (*)

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2017