Yayasan Kalimajari melakukan pendampingan petani di Kampung Merasa, Kabupaten Berau, Kaltim dalam membudidayakan kakao secara organik, sehingga produknya lolos seleksi tingkat delapan besar Indonesia untuk Cocoa of Excellence di Paris, Prancis.


"Petani kakao di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, sampai saat ini tetap mempertahankan proses budi daya secara organik," kata Direktur Yayasan Kalimajari Agung Widiastuti dalam rilis yang diterima di Samarinda, Jumat (21/1).

Pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak melakukan pendampingan dan pemberdayaan bagi petani setempat, sehingga petani kakao di Kampung Merasa meniadakan penggunaan pestisida dan menguatkan proses fermentasi sebagai upaya memberikan nilai tambah terhadap biji kakao.

Pemberdayaan petani perempuan dalam membangun kesetaraan peran, lanjutnya, juga menjadi hal yang penting bagi pihaknya dalam implementasi program yang dijalankan.

"Ini merupakan salah satu komitmen dari Yayasan Kalimajari untuk menguatkan peran petani dalam menjaga lingkungan, kemudian memastikan kakao diproduksi dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar produk yang berkelanjutan," katanya.

Budi daya kakao juga menjadi mata pencaharian agar masyarakat lebih fokus mengembangkan kebun cokelat, tanpa harus bergantung dengan hutan, sekaligus menjaga kelestarian hutan dan keberlangsungan habitat orang hutan di kawasan itu.

Kakao di Kampung Merasa ditanam di sepanjang tepian Sungai Kelay dan dikelilingi oleh hutan. Kampung Merasa juga merupakan salah satu area yang di dalam wilayahnya terdapat Pulau Bawaan yang digunakan untuk konservasi orang hutan.

Atas komitmen budi daya kakao secara organik ini kemudian membuat produsen kakao, yakni Pipiltin Cocoa pada Sabtu, (20/1) meluncurkan koleksi terbaru dari edisi kakao asli Indonesia dengan merk "Kampung Merasa 74%".

Peluncuran cokelat ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung produk Indonesia yang peduli terhadap kelestarian flora dan fauna, kesejahteraan petani, dan ekowisata di Kampung Merasa.

"Kami mendukung dan kami minta produk olahan kakao yang dijual tetap atas nama kampung kami, yakni Kampung Merasa. Selama ini kampung kami juga dikenal oleh orang luar sebagai kampung wisata," ujar Antonius, perwakilan petani dari Kampung Merasa.
 

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Abdul Hakim Muhiddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2022