"Untuk belajar harus dengan cara bergantian, SMP masuk pukul 07.00 hingga pukul 13.00 Wita dan SMA masuk pukul 14.30 Wita hingga pukul 17.30 Wita," kata Kepala Unit Pelaksana Tehnis Daerah (UPTD) Pendikan Sangata Selatan, Abdullah, Minggu.
Menurut Abdullah, karena menggunakan satu gedung, maka sangat sulit menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).
"Menggunakan satu gedung untuk dua sekolah, ini sangat merugikan karena tidak bisa berubah status menjadi RSBI dan SBI," katanya.
Abddullah mengatakan, selain tidak bisa menjadi RSBI dan SBU, dua sekolah ini, sulit untuk memperoleh nilai akreditasi dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Salah satu persyaratan untuk meningkatkan akreditasi dari delapan syarat adalah sarana dan prasarana. Mereka menggunakan satu gedung sekolah.
Untuk memperoleh akreditasi sekolah adalah memenuhi delapan standar Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), meliputi standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidikan dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan serta pembiayaan.
"Karena SMP Negeri 1 masih ditumpangi SMA Negeri 1 dan begitu pula sebaliknya, SMA masih menumpang di gedung SMP, maka ini sangat sulit untuk meningkatkan statusnya, baik untuk RSBI dan SBU ataupun akreditasi sekolah," katanya
Pemilik gedung itu adalah SMP Negeri, sedangkan SMA N1 Sangata Selatan hanya menumpang, sejak berdiri tahun 2007. Selama tujuh tahun sampai sekarang belum memiliki gedung sendiri.
Dikatakan Abddulah, masalah ini sudah sering disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kutai Timur dan sangat ditanggapi degan sserius, namun kendala pemerintah didalam pembangunan adalah karena Sangata Selatan masuk dalam wilayah Taman Nasional Kutai (TNK).
"Kendala Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, terutama Dinas Pendidikan karena bangunan SMA yang sudah hampir rampung di Silpaduta, Desa Masabang, Kecamatan Sangata Selatan, dihentikan oleh Balai Taman Nasional Kutai BTNK tahun 2009-2010 dan sampai sekarang tidak bisa digunakan," katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Imam Hidayat, saat dikonfirmasi, membenarkan dua sekolah itu menggunakan sarana proses belajar-mengajar satu gedung.
"Iya benar, SMAN 1 masih menumpang menggunakan gedung SMPN Sasel. Sampai sekarang pembangunan gedung SMAN tidak dilanjutkan, karena dihentikan Balai Taman Nasional Kutai BTNK," katanya.
H Abu Fakih, guru SMAN1 Sasel mengatakan, guru-guru tidak bisa maksimal melakukan kegiatan pembelajaran karena jam belajar terbatas, yakni hanya empat jam setiap hari.
"Masuk belajar pukul 14.00 Wita dan keluar pukul 17.30 Wita, jadinya tidak maksimal. Bahkan untuk mata pelajaran agama dari empat jam belajar setiap minggu, dua jam dilakukan di masjid. Tapi mau apalagi lagi, kita belum miliki gedung sendiri," kata Abu Fakih.(*)
Pewarta: Adi Sagaria: Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.