Tanjung Redeb (ANTARA News Kaltim) - PT Berau Coal menggelar simulasi gangguan keamanan berupa teror bom di Pelabuhan Berau Coal Site Lati, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kamis.

Dalam kegiatan simulasi "Exercise Internasional Ship and Port Security (ISPS) code IV" itu digambarkan bahwa PT Berau Coal mendapat teror setelah ditemukan sebuah kotak berwarna coklat berukuran sekitar 20 x 20 cm dengan noda ceceran oli, di salah satu bus angkutan karyawan.

Setelah diperiksa dengan metal detector, kotak tersebut ternyata mengandung bahan logam, serta terdengar detak jarum jam layaknya detonator bom pada umumnya.

Peristiwa itu kemudian segera dilaporkan kepada Polsek Gunung Tabur yang diteruskan kepada Polres Berau kemudian ditindaklanjuti turunnya tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) dari Polres. Setelah ditangani tim penjinak, kotak tersebut memang berupa bom yang sengaja ditaruh di dalam angkutan karyawan kemudian diamankan.

Itulah gambaran dalam peragaan simulasi yang digelar PT BC dalam yang digelar Kamis (29/12), di Pelabuhan BC Site Lati Kecamatan Gunung Tabur.

Sebagai salah satu objek vital nasional, PT Berau Coal selaku perusahaan yang bergerak di bidang tambang batu bara, harus siap dalam menghadapi setiap tantangan termasuk dalam gangguan keamanan yang bisa menggangu produktivitas perusahaan.

Menurut ketua panitia pelaksana, Hasanul Haq Batubara, kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan wawasan dan pemahaman dalam penanganan gangguan kemananan dan antisipasi dini.

"Kegiatan ini merupakan agenda rutin Berau Coal yang juga merupakan sebuah kewajiban dalam menjaga stabilitas Obvitnas. Kita melibatkan personel Polres dalam kegiatan, juga beberapa unsur terkait seperti Syahbandar, kegiatan selain didarat juga kita laksanakan di muara pantai dan kantor Berau Coal," ujarnya.

Ditambahkannya, keamananan perusahaan bukan hanya tanggung jawab aparat kepolisian melainkan juga merupakan tanggung jawab semua komponen yang ada dalam perusahaan.

Untuk itu, dalam kegiatan diharapkan mampu memberikan tambahan wawasan seluruh peserta yang berjumlah 110 orang termasuk personil Polres terhadap antisipasi dan penanagan jika terjadi kasus gangguan keamanan.

Senada dengan Hasanul, Kepala teknik tambang BC, Gatot S, mengatakan, keamanan seluruh perusahaan dari gangguan sekecil apapun merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh semua komponen perusahaan.

"Keamanan dalam lingkup perusahaan tidak hanya sebatas keselamatan kerja dalam operasional, namun juga lebih kepada kemananan secara umum gangguan dari luar," ungkapnya.

Mewakili Kementerian Perhubungan RI, Captain, Jhoni Algamar dalam sambutannya mengatakan, latihan yang dilaksanakan adalah sebuah keharusan dalam mengantisipasi kemungkinan terjadi gangguan.

"Jadi bukan kita meminta ada kasus,tapi antisipasi,jadi kami harapkan peserta yang mengikuti latihan dengan serius," ungkapnya.

Operasional Berau Coal bukan hanya berada pada wilayah darat, melainkan akhir proses berada pada perairan. Gangguan seperti teror serupa, tegas Jhoni, akan berpengaruh pada operasional perusahaan secara global.

"Kita ketahui di luar sana di muara pantai terdapat kapal-kapal asing, jika ini sampai terjadi maka akan berdampak serius bagi perusahaan dan daerah," katanya.  (*)



Pewarta: Helda Mildiana
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026