Balikpapan (ANTARA News Kaltim) - Ribuan siswa di perbatasan Indonesia-Malaysia di Nunukan, Kalimantan Timur, belajar seadanya di sekolah yang tidak memiliki cukup ruang untuk menampung mereka.

"Di sekolah kami saja, ada tiga kelas yang rusak berat dan tak bisa dipakai," kata Pilipus Barau, Kepala SDN 018 Krayan, Long Bawan, Nunukan, Kalimantan Timur, kepada Hetifah Sjaifudian, anggota Komisi X DPR RI yang mengunjungi sekolah tersebut pekan lalu.

Kelas-kelas yang rusak itu terutama bocor atapnya sementara sekolah tidak punya dana untuk sekedar memperbaiki.  

"Tentu saja sudah kami laporkan kepada pemerintah, kepada Dinas Pendidikan Nunukan, tapi mungkin hingga hari ini belum ada anggaran untuk perbaikan," sambung Barau.

Karena itu juga, "Kami tetap pakai ruangan yang rusak itu. Anak-anak hanya diingatkan untuk hati-hati," kata Barau.

Sekolah yang dipimpin Barau dibangun dari proyek Inpres (Instruksi Presiden) di tahun 80-an dan belum pernah tersentuh renovasi hingga hari ini.

Hetifah mengunjungi sepuluh sekolah di Krayan, yaitu satu unit pendidikan anak usia dini (PAUD, taman kanak-kanak dan kelompok bermain), empat SDN, tiga sekolah menengah pertama, dan dua sekolah menengah atas. Selain SDN 018, ia juga mengunjungi SDN 010, SDN 007, dan SDN 017 Krayan yang keadannya tak jauh berbeda dari SDN 018.

Sekolah menengah yang ia datangi adalah SMPN1, SMPN2, SMPN4, SMKN1, dan SMAN1. Dua sekolah menengah atas ada di Long Bawan, ibukota kecamatan Krayan, 45 menit perjalanan udara dari Nunukan, ibukota Kabupaten Nunukan. 

"Yang juga sudah banyak rusak itu rumah dinas guru dan penjaga sekolah," kata Hetifah di Balikpapan. Karena itu, semua sekolah yang dikunjungi Hetifah minta renovasi rumah dinas tersebut, atau bahkan minta pembangunan baru.

"Karena sebagian besar guru-guru kami di sini adalah pendatang, bukan asli warga Krayan," kata Perminas Philipus, dari SMAN 1 Krayan.

Hetifah yang berkunjung memanfaatkan reses masa persidangan DPR RI, menerima daftar kebutuhan dan keinginan para guru dan murid tersebut.

"Ironis sekali, sebab untuk tahun 2011 anggaran pendidikan nasional mencapai Rp249 triliun dan untuk tahun 2012 dianggarkan Rp286 triliun," kata Hetifah.

Bangunan sekolah-sekolah di Krayan, terutama sekolah dasar, seperti kebanyakan sekolah-sekolah di Kalimantan yang dibangun tahun 80-an, adalah sekolah yang dikategorikan Departemen Pekerjaan Umum sebagai bangunan semi permanen. Sekolah dibangun dari kayu  dengan konstruksi panggung.

Kayu ulin atau kayu besi menjadi tiang-tiang utama. Sirap yang menjadi atap juga terbuat dari kayu ulin yang di tahun 80-an memang masih melimpah di Tanah Borneo.

"Bangunan dari kayu dan berbentuk panggung seperti itu sebenarnya sangat cocok di Kalimantan yang punya banyak rawa dan hutan lembab," kata Hetifah.  

Apalagi, dengan konteks perbatasan yang jauh dari pusat ekonomi kabupaten, apalagi provinsi, membangun dengan material kayu tampaknya masuk akal ketimbang dengan batu, bata, semen, dan pasir, dimana harga semen saja mencapai Rp600 per zak. (*)


Pewarta: Novi Abdi
: Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026