Samarinda (ANTARA News - Kaltim) - Pemkot Samarinda meminta agar warga "Kota Tepian" berpenduduk sekitar 700.000 jiwa itu tidak terprovokasi konflik, yakni buntut pertikaian berdarah antarkelompok massa di areal pertambangan PT. Bukit Baiduri Energi (BBE).
    
"Peristiwa ini bukan bentrok antarwarga atau suku tetapi antara pemilik lahan dengan orang yang mendampingi perusahaan. Kasus ini murni melibatkan Arbain yang berada pada kubu warga yang mengaku sebagai pemilik lahan yang dijadikan jalan holing batu bara dengan kubu Fendi Meru yang mengawal pihak perusahaan," ujar Wakil Wali Kota Nusyirwan Ismail di Samarinda, Selasa.
     
Hal itu disampaikan Wawali Nusyirwan saat meninjau lokasi kejadian di Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur.
     
Nusyirwan Ismail kembali menegaskan bahwa bentrokan tersebut tidak terkait etnis maupun Ormas tertentu.
     
Pemkot Samarinda kini tengah mengupayakan pertemuan agar kedua kubu yang sempat terlibat saling bacok itu bisa menyelesaikan masalah itu melalui dialog.
    
"Saat ini, salah satu kelompk telah berada di rumah jabatan wali kota dan kami berharap, masalah ini bisa diselesaikan melalui dialog," katanya.
    
"Kami menghimbau warga agar tidak mudah terprovokasi dan menyerahkan masalah ini ke pihak kepolisian. Kami juga meminta wartawan agar memberitakannya ini secara bijak dan tidak justru memprovokasi warga sebab masalah ini sangat rentan dan muah tersulut. Sejauh ini, situasi kamtibmas di Samarinda masih tatap kondusif," ungkap Nusyirwan Ismail.
    

Dipicu Pemblokiran Jalan

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, bentrokan dua kelompok massa yang berlangsung sejak Selasa pagi hingga siang itu dipicu pemblokiran jalan holing di areal tambang batu bara PT. BBE terkait tuntutan ganti rugi lahan warga.
    
"Sengketa lahan itu sudah berlangsung sejak lama, namun pihak perusahaan tidak punya inisiatif membayar ganti rugi sehingga warga terpaksa memblokir jalan holing batu bara yang merupakan milik salah seorang warga," ungkap seorang tokoh pemuda Loa Buah, Ramdan.
    
Bentrokan terjadi diduga akibat pihak PT. BBE menyewa kelompok massa tertentu yang menyebabkan satu orang dari kelompok massa tersebut menderita luka bacok.
    
"Kami sangat menyayangkan sebab pihak perusahaan ternyata menyewa orang untuk mengawal holing batu bara itu sehingga menyebabkan bentrokan fisik," kata Ramdan.
    
Akibat bentrokan yang melukai salah seorang tokoh pemuda di Kaltim, Fendi Meru itu, puluhan orang kemudan mengamuk dan merusak rumah milik tokoh pemuda Loa Buah, Arbain dan membakar 17 unit motor yang diparkir di areal perusahan PT. BBE.
    
Saat puluhan orang dengan membawa berbagai senjata tajam dan mengenakan atribut etnis tertentu mengamuk dan merusak rumah Arbain, situasi Loa Buah terlihat snagat mencekam.
    
Bahkan, hingga Selasa petang, beberapa rumah dan toko masih terlihat tertutup akibat warga khawatir akan terjadi aksi balas dendam dari salah satu kelompok massa.
    
"Sebagian warga belum berani membuka rumah dan tokonya sebab takut terjadi bentrok susulan. Saat amuk massa terjadi, puluhan orang terlihat membawa senjata tajam sambil berteriak mencari Arbain. Untungnya, keluarga Arbain berhasil dievakuasi polisi sebelum massa merusak rumah mereka," kata seorang warga Loa Buah.    


Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026