Balikpapan (ANTARANews - Kaltim) -    Kepergian Muhammad Syaiful, Kepala Biro SKH Kompas wilayah Kalimantan di rumahnya di Balikpapan Baru Blok S2 Nomor 8 Senin (26/7) dalam usia 43 menyiskan banyak cerita di mata sahabat-sahabatnya.

"Saya masih sempat komunikasi dengan almarhum Sabtu malam," kenang Achmad Subechi, Pemred Tribun Kaltim yang merupakan teman satu angkatan almarhum pada perusahaan Kompas Grup itu.

"Kami berbicang lewat fasilitas chatting facebook. Almarhum mengabarkan ia baru pulang dari Palembang sementara saya cerita saya baru Medan," katanya.

Ia menuturkan bahwa beberapa pekan sebelum itu ia ingin memberikan sebuah topi kepada almarhum. Topi itu merupakan topi Ekspedisi Kompas Borneo di mana oleh Bechi sendiri topi itu tak terpakai.

Komunikasi terakhir via facebook juga dilakukan Ferry Mei Effendi, wartawan Tribun Kaltim. Menurut Ferry, mereka berbicara tentang liputan kawasan hutan mangrove di Balikpapan.
 
"Mendiang ini kawan sejak zaman susah atau sama-sama menjadi wartawan pemula," kata Benny, wartawan RCTI di Samarinda.

Benny menuturkan berbagai pengalaman pahit dan manis bersama almarhum, misalnya liputan kebakaran hutan, perusakan lingkungan hutan mangrove, pembabatan hutan Pulau Kumala yang menyebabkan ratusan satwa langka bekantan harus dievakuasi sampai liputan Pesut Mahakam.

Hal senada disampaikan Iskandar Zulkarnaen, wartawan LKBN ANTARA. Almarhum, Benny RCTI dan Iskandar Zulkarnaen (ANTARA) mulai berkawan sekitar 1996 ketika Syaiful bertugas di Samarinda sebagai wartawan lapangan Kompas.
  
"Almarhum dan Benny RCTI paling suka jika bersama-sama beberapa teman melakukan liputan ke pedalaman Mahakam karena sangat menggemari makan ikan patin. Saya sendiri tidak bisa makan ikan patin karena tidak tahan bau amis," tutur Iskandar.
  
"Sama-sama wartawan pemula saat itu, maka satu hal yang saya kagumi dari almarhum, yakni kekuatan dan penguasaan data yang begitu akurat dalam penulisan sebuah berita. Jadi, beritanya jarang mendapat bantahan," ujar Iskandar.

"Sama seperti Benny, almarhum orangnya periang, supan dan sangat ramah sehingga kepergiannya yang begitu mendadak memang membuat kami merasa begitu kehilangan," ujar Iskandar.
  
Benny bergegas ke Balikpapan setelah Wahyu Hidayat, mantan wartawan Trans TV mengabari Syaiful telah meninggal.
  
Wahyu sendiri setahun lebih tinggal di rumah No 8 Blok S2 Balikpapan Baru tersebut. Saat itu ia masih bujangan dan baru memulai karir sebagai wartawan Trans TV tahun 2007.
   
"Kalau pagi, mas Syaiful suka masak sendiri. Kalau malam ia suka makan nasi atau mie goreng di warung di Sungai Ampal. Sering pula beli dibungkus saja," cerita Wahyu.


Bukan Kekerasan

Kepolisian Balikpapan (Kaltim) menyatakan bahwa Muhammad Syaiful, Kepala Biro SKH Kompas wilayah Kalimantan yang ditemukan tak bernyawa lagi di rumahnya di Balikpapan Baru Blok S2 Nomor 8 Senin (26/7) bukan karena kekerasan.
   
"Secara kasat mata, pada tubuh almarhum tidak ditemukan bekas-bekas yang mengarah adanya tindak kekerasan seperti disampaikan pihak kepolisian," ujar Achmad Subechi, Pemred Tribun Kaltim (Grup Kompas Gramedia) yang turut mengantar jenazah dari rumah ke RS Bhayangkara, Jalan Jendral Sudirman, Balikpapan.
   
Polisi tidak menemukan ada bekas pukulan baik oleh benda tumpul ataupun luka karena benda tajam di tubuh almarhum.
   
Mengenai mulut yang berbusa dan penemuan obat sakit kepala dan gelas yang berisi sisa limun di samping jasad almarhum sampai kini masih menunggu hasil otopsi kepolisian.
   
"Suami saya memang memiliki penyakit darah tinggi," kata Isnaniah Sri Rohmani, istri Syaiful yang datang langsung dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
   
Isnaniah datang bersama kedua anak mereka, Dilla dan Naza dan didampingi beberapa anggota keluarga.
   
Hal penyakit darah tinggi atau hipertensi tersebut, menurut Priyo Suwarno, redaktur pelaksana Tribun Kaltim, memang sudah lama terdeteksi. Syaiful rutin melakukan pemeriksaan terkait penyakitnya itu.
  
"Kalau kondisi badannya kurang fit, Mas Syaiful biasanya rutin lagi berolah raga," kata Wahyu Hidayat, mantan wartawan Trans TV sahabatnya. 




Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026