Tana Paser (ANTARA Kaltim) - Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Paser menggelar seminar kesehatan yang diikuti 375 bidan yang ada di daerah itu, sebagai upaya menekan angka kematian ibu akibat melahirkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Paser dr I Made Dewa, saat membuka seminar yang mengambil tema `Penanganan Bayi Prematur, dan Penanganan Kegawatdaruratan Kasus Pendarahan Pada Ibu Melahirkan` Sabtu menyatakan, pentingnya menambah pengetahuan kepada para tenaga kesehatan untuk menekan angka kematian bayi dan ibu melahirkan di daerah itu.
"Tema yang diangkat pada seminar ini sangat penting untuk menambah pengetahuan para tenaga kesehatan sejingga akan kematian bayi dan ibu saat melahirkan dapat ditekan," kata I Made Dewa.
Sementara, Ketua IBI Kabupaten Paser Nur Jannah mengatakan, seminar tersebut menghadirkan dua nara sumber dari setiap tema yang dibahas.
"Untuk materi tentang penanganan bayi dengan berat badan rendah atau prematur disampaikan oleh dr Ahmad Hadi Wijaya," ujar Nur Jannah.
Sedangkan materi kedua terkait penanganan gawat darurat kasus pendarahan pada ibu melahirkan lanjut Nur Jannah, dipaparkan oleh dr Efry Sofyan.
Seminar kesehatan yang diikuti para bidan tersebut tambah Nur Jannah, bertujuan menekan angka kematian bayi yang disebabkan berat badan rendah dan ibu melahirkan karena pendarahan.
"Pada 2015, terdapat delapan Kasus ibu meninggal karena pendarahan saat melahirkan," katanya.
Sedangkan untuk bayi meninggal saat lahir kata Nur Jannah, mencapai 59 kasus, 21 diantaranya disebabkan berat bayi rendah atau prematur.
Menurutnya, para bidan masih perlu diberikan pengetahuan dan tindakan yang tepat dalam menghadapi kedua kasus tersebut.
"Karena banyak dari mereka yang terlambat merujuk pasien ke rumah sakit sehingga pasien yang mengalami pendarahan tidak lagi bisa tertolong setibanya di rumah sakit," tutur Nur Jannah.
Begitu pun pada kasus bayi prematur menurut Nur Jannah, keterlambatan penanganan masih menjadi masalah para bidan di desa.
"Bayi yang lahir prematur di desa atau puskesmas, juga didapati sering mengalami keterlambatan rujuk," katanya.
"Saya berharap, dengan seminar ini menambah pengetahuan bidan sehingga bayi prematur dirujuk ke rumah sakit dalam kondisi stabil," ujar Nur Jannah. (*)
