Selain itu, pembangunan pabrik tersebut juga berdasarkan Kepres Nomor 1/2010 yang menetapkan ada dua klaster industri di Kaltim, yakni Klaster Industri Berbasis Gas dan Kondensat di Bontang dan Klaster Industri Berbasis Oleochemical di Maloy Kutai Timur.
“Diharapkan dua klaster ini dapat menjadikan Kaltim sebagai salah satu provinsi penghasil pupuk dan minyak sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di Indonesia bahkan di Asia,†kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak pekan lalu.
Kapasitas produksi pupuk urea cukup banyak, yakni mencapai 1.155.000 ton per tahun dan pupuk amoniak sebanyak 825.000 ton per tahun. Selain itu, konsumsi energy dari urea sebanyak 24 MMBTU per ton dan amoniak sebanyak 32 MMBTU per ton. Untuk konsumsi gas dari dua produk tersebut, yakni sebesar 80 MMSCFD. Nilai proyek mencapai USD576 juta dengan waktu pembangunan proyek sejak 2011-2015 di lokasi Kawasan Industri Pupuk Kaltim.
Setelah meresmikan Pabrik 5, Presiden Jokowi bersama Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak beserta rombongan melanjutkan perjalanan menuju Penajam Paser Utara untuk melakukan groundbreaking proyek senilai USD5.582 atau setara Rp72 triliun bersumber dari proyek rel kereta api dan techno park yang dibangun perusahaan Rusia di kawasan Buluminung, Penajam Paser Utara (PPU).
Tiga proyek yang diresmikan antara lain pembangunan rel kereta api. Jalur pertama rel kereta api yang dibangun dari Kabupaten Kutai Barat ke Kabupaten Penajam Pasir Utara sepanjang 203 kilometer dengan nilai investasi USD2,2 miliar.
Jalur kedua wilayah utara dari Kabupaten Kukar ke Kabupaten Kutim sepanjang 195 km dengan nilai investasi USD1,5 miliar. Dari pembangunan proyek tersebut, diharapkan kesejahteraan rakyat Kaltim semakin meningkat.(Humas Prov Kaltim/jay)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.