“Kita tidak terkena krisis daging sapi seperti yang terjadi di Jakarta, Jawa dan Sumatera. Sebab, Kaltim hanya memasok sapi lokal bukan sapi impor,†kata Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Kaltim H Dadang Sudarya di ruang kerjanya kemarin.
Menurut dia, walaupun konsumsi daging di Kaltim setiap tahun terus mengalami peningkatan, namun para pelaku usaha di subsektor peternakan ini sejak lama hanya memasok sapi lokal, sehingga ketersediaan selalu ada dan harga tetap stabil.
Dadang menyebutkan untuk ketersediaan daging sapi masih melebihi kebutuhan (demand). Misalnya, ketersediaan sapi potong sebanyak 14.408 ekor setara 2.262 ton daging, sementara kebutuhan masih sekitar 14.050 sapi atau 2.206 ton daging.
Dijelaskannya, krisis atau kelangkaan daging sapi di kota-kota besar di Indonesia beberapa hari terakhir ini karena daerah-daerah itu memasok sapi potong dari luar negeri (sapi impor). Sementara pemerintah telah membatasi pasokan atau masuknya sapi impor sehingga berimbas pada kelangkaan daging sapi dan harganya pun meroket.
Selain itu, kondisi pasokan daging sapi ke konsumen diperparah dengan prilaku importir atau feedloter (pelaku usaha penggemukan sapi potong impor) yang menahan sapi-sapi impor dikandang dan tidak dikirimkan ke RPH-RPH yang diperkirakan mencapai 230 ribu ekor.
“Kaltim tidak terpengaruh dengan pembatasan kuota sapi impor. Walaupun harga sempat terjadi kenaikan namun sejak akhir Ramadhan hingga saat ini harganya kembali turun. Sebelumnya Rp135 ribu per kg, sekarang berada pada kisaran Rp110 ribu hingga Rp125 ribu per kg,†jelas Dadang.
Dia menambahkan masyarakat khususnya pasar tradisional dan pedagang masakan sudah terbiasa dan menyukai daging sapi lokal. Sedangkan, impor daging beku hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar modern (swalayan), rumah makan (catering besar) serta hotel dan perusahaan.
Ketersediaan pangan asal ternak lainnya antara lain terdiri dari kambing 9.448 ekor (128 ton), sementara kebutuhan 8.261 ekor (112 ton). Sedangkan untuk daging beku 265 ton dengan kebutuhan sekitar 225 ton.
Ayam potong 8.194.604 ekor (8.440 ton) dan kebutuhan 7.917.466 ekor (8.155 ton). Demikian pula dengan telur yang mencapai 2.810 ton, sementara kebutuhan masyarakat sekitar 2.715 ton. (Humas Prov Kaltim/yans)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.