"Kami perkirakan anaknya berusia satu minggu," kata Juru Bicara Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (BOSF) Nico Hermanu, Sabtu.
Berdasarkan catatan BOSF, bayi ini adalah anak kedua Yayang. Semasa menjalani rehabilitasi di Samboja Lestari, Yayang sudah memiliki satu anak yang diberi nama Sayang.
Sebagai ibu dan anak, Sayang turut dilepasliarkan bersama induknya, Yayang, di Hutan Kehje Sewen pada saat yang sama.
"Nah, kini kita melihat Yayang punya bayi lagi," kata CEO BOSF Dr Jamartin Sihite di kesempatan terpisah.
Menurut Nico Hermanu, Tim Pemantau BOSF di Hutan Kehje Sewen masih berusaha melengkapi data hingga lebih detil lagi. Keberadaan Yayang dapat dilacak dengan menggunakan alat pemancar mini yang ditransplantasikan di punggunggnya.
"`Kan jenis kelamin bayinya saja kami belum tahu," kata Hermanu. Meski dapat dilacak, sebagai seharusnya orangutan liar di alam, Yayang selalu berada di atas pohon dan sangat jarang turun ke tanah ke lantai hutan.
"Perlu dipahami bahwa induk orangutan sangat protektif terhadap anaknya, karena itu pengamatan perlu dilaksanakan dengan hati-hati. Kami berharap pekan mendatang kami sudah memperoleh info lebih lanjut mengenai kondisi Yayang dan anaknya."jelasnya Dr Jamartin Sihite.
Sejak 2010 BOSF telah melakukan sejumlah pelepasliaran orangutan. Pelepasliaran pertama dilakukan di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan, Kaltim dan di Pegunungan Meratus di lingkup Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Kini pelepasliaran dilakukan di Hutan Kehje Sewen yang dikelola oleh PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI). PT RHOI adalah perusahaan yang didirikan BOSF khusus untuk mengurus hutan tersebut. (*)
Pewarta: Novi AbdiEditor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.