Dipimpin oleh HM Hatta Zainal, rombongan yang terdiri dari Jawad Siradjuddin, Darlis Pattalongi, Muhammad Adam, Zaenal Haq, Wibowo Handoko dan Ichruni Luthfi Sarasakti, kembali mempertanyakan status pembangunan BSB. Terlebih pembangunan sisi daratnya diperkirakan rampung Desember nanti.
“Tujuan utama pertemuan ini adalah mencari kepastian posisi BSB yang diketahui pembangunan sisi udaranya akan dibiayai oleh pusat. Tetapi dalam perjalanannya, tanda-tanda pembangunannyapun belum terlihat. Padahal proses pembangunan sisi darat sudah memasuki tahap akhir,†ungkap Zainal di awal pertemuan.
Diterima oleh Kasubdit Tatanan Kebandarudaraan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan, Nafhan Syahroni, pertemuan itu juga mempertanyakan komitmen Kementreian Perhubungan akan posisi Bandara Temindung yang sudah dinilai banyak kalangan termasuk Kementerian Perhubungan sendiri, jauh dari layak.
“Faktanya, justru ada kabar Bandara Temindung mendapat alokasi anggaran APBN hingga puluhan miliar. Salah satunya, untuk pemasangan lift di tower bandara. Itulah yang ingin kami pastikan kebenarannya. Padahal, Pemprov dan DPRD Kaltim telah berupaya agar posisi bandara itu digantikan oleh BSB nantinya. Apa memang kucuran dana sebanyak itu diperlukan?†papar Zainal lagi.
Diketahui, total anggaran pembangunan BSB di sisi darat sebesar Rp 696 miliar. Sebagian besar lokasi BSB merupakan lahan yang baru dibuka. Tak heran jika kontraktor memakan waktu cukup banyak untuk menginvestigasi tanah sesuai spesifikasi gedung.
Luas lahan BSB saat ini 310 hektare dengan perluasan nantinya sampai 470 hektare. Dengan luas terminal penumpang 12.711 meter persegi, BSB mampu menampung 1,5 juta orang per tahun pada tahap awal. Untuk pengembangan, kapasitas bisa menampung 5 juta penumpang dengan luas terminal 16.468 meter persegi. Sedangkan landasan pacu sepanjang 2.100 meter bisa dikembangkan mencapai 2.500 meter dengan lebar 60 meter. Spesifikasi itu bisa didarati pesawat dengan tipe Boeing 737-800 NG, Airbus 320, dan Airbus 319.
Kekhawatiran penggunaan dana puluhan miliar pada bandara temindung yang dirasa tidak potensial itu ternyata tak terbukti. Dari data anggaran maintenance dan operasional Kementerian Perhubungan, maintenance tower Bandara Temindung hanya mencapai Rp 234 juta. Sedangkan untuk operasional dan perawatan terminal jumlahnya juga tidak menunjukkan angka yang mencengankan. “Total anggaran operasional dan perawatan Bandara Temindung tak lebih dari Rp 2 miliar.
Itu pun sudah melalui proses pengecekan langsung terkait item-item yang masuk dalam kategori yang harus dibiayai itu,†urai Nafhan Syahroni.
Ia juga mengatakan bukan tanpa alasan jika Bandara Temindung tetap mendapat prioritas maintenance meski kondisinya juga diakuinya jauh dari kata layak.
“Selama BSB belum beroperasi, peran Bandara Temindung tetap penting. Karena arus pergerakan lewat bandara itu selalu aktif meski dari banyak kajian, aspek safety-nya sangat sulit untuk dikembangkan. Jadi, berdasarkan hal itulah aspek layanan tetap harus dilaksanakan dan bukan berarti BSB tidak terkawal,†tambahnya. (Humas Prov Kaltim/adv/dhi/met)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.