Permasalahan kekurangan pegawai inilah yang perlu mendapatkan perhatian serius di lingkungan kamiNunukan (ANTARA Kaltim) - Direktur Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI, Agung Kuswandono, mengakui Kantor Bea dan Cukai masih mengalami banyak kendala dalam mengawasi keluar masuknya barang di seluruh wilayah perbatasan di Indonesia.
Kendala utama adalah masih kurangnya tenaga atau pegawai di lingkungan Kantor Bea Cukai yang berada di wilayah perbatasan dibandingkan dengan jumlah pintu-pintu keluar masuk yang perlu dijaga ketat, katanya di Nunukan, Rabu.
Khususnya Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe B Kabupaten Nunukan, lanjut dia, jumlah pegawai yang dimiliki hanya 31 orang sementara jumlah pintu masuk yang membutuhkan pengawasan sebanyak 25 titik yang tersebar di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik.
"Permasalahan kekurangan pegawai inilah yang perlu mendapatkan perhatian serius di lingkungan kami," kata Agung Kuswandono.
Terkait dengan penerimaan pegawai 2013, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pernah meminta kepada Kementerian Keuangan RI untuk melakukan perekrutan sendiri, namun belum mendapatkan tanggapan, bebernya.
Agung Kuswandono juga mengungkapkan, kendala lain yang dialami yakni seringnya lampu PT PLN di Kabupaten Nunukan padam yang menyebabkan x-ray yang berada di Pelabuhan Tunon Taka mengalami kerusakan.
Masih berkaitan dengan hal tersebut, Kepala KPPBC Tipe B Kabupaten Nunukan, Bambang Wicaksono di Nunukan mengutarakan hal yang sama bahwa pihaknya membutuhkan dukungan dalam upaya pengawasan keluar masuknya barang-barang dari Tawau Malaysia ke Kabupaten Nunukan dan sebaliknya.
Meskipun demikian Bambang Wicaksono menyatakan, tidak pernah menyurutkan semangatnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya di lapangan memperketat pemeriksaan.
"Walaupun kami mengalami kekurangan dukungan sarana prasarana tapi semangat tetap ada dalam melakukan pengawasan barang-barang dari luar negeri (Malaysia)," katanya.
Selanjutnya, dia mengemukakan pula Pelabuhan Internasional Tunon Taka Kabupaten Nunukan yang setiap harinya padat dengan kedatangan penumpang tenaga kerja Indonesia (TKI) maupun penumpang umum kesulitan melakukan pengawasan akibat tidak sterilnya kondisi di pelabuhan itu.
Sebab, tidak adanya batasan ruang antara masyarakat umum yang masuk di area pelabuhan dengan penumpang yang datang, ujar Bambang Wicaksono.
Ia juga mengeluhkan di Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik yang berbatasan langsung dengan Negeri Bagian Sabah Malaysia terdapat banyaknya pintu-pintu kecil yang selama ini dikenal "jalur tikus" yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memasukkan barang dari Malaysia tanpa mampu diawasi. (*)
Pewarta: M RusmanEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.