Fatimah, salah satu warga Samarinda, saat ditemui usai membeli berbagai kebutuhan pokok untuk kebutuhan rumah tangganya, Kamis, mengatakan bahwa berbagai komoditi yang dijual di pasar murah itu memang harganya lebih murah ketimbang harga di pasar maupun di swalayan.
Dia mengaku, sebelumnya tidak ada niat khusus untuk ke pasar murah yang berlokasi di halaman kantor UPTD P3UKM di Jl D I Panjaitan itu, karena dia berniat ke Pasar Segiri untuk membeli telur, tepung, dan sejumlah keperluan dapur lainnya.
“Saat saya melintas di halaman UPTD P3UKM, saya melihat banyak orang dan ada pengeras suara yang meminta mampir di pasar murah, maka saya belok dan melihat, ternyata harganya memang jauh lebih murah,†katanya.
Sebagai contoh, harga sepiring telur yang di pasar-pasar tradisional dan pasar swalayan pada kisara Rp40 ribu hingga Rp43 ribu, tetapi di pasar murah itu harga telur hanya sebesar Rp37 ribu per pring.
Kemudian harga gula putih yang di pasar lain pada kisaran Rp13 ribu hingga Rp14 ribu per kilogram (kg), tetapi di pasar murah itu hanya sebesar Rp11.500 per kg.
Menurut Kepala Bidang Perdangan Dalam Negeri Disperindangkop dan UMKM Kaltim Muhammad Yunus, mendekati Ramadhan dan saat Ramadhan ini pihaknya memang sengaja menggelar beberapa kali pasar murah untuk masyarakat.
Hal ini dilakukan untuk mengendalikan harga di pasar agar jangan sampai mengalami kenaikan terlalu tinggi, pasalnya semakin banyak warga yang memburu sembako, maka semakin besar pula peluang kenaikan harga.
Digelarnya pasar murah ini, diyakini mampu memnimalisir gejolak kenaikan harga karena jumlah pembelinya akan terpecah, yakni sebagian ada yang belanja di pasar murah dan sebagian lagi masih ada yang belanja di pasar tradisional maupun swalayan.
“Kami bisa menjual sembako dengan harga murah karena mengajak kerja sama dengan sejumlah distributor, sehingga yang dijual di pasar murah ini merupakan harga distributor yang selama ini bermitra dengan Disperindakop dan UMKM Kaltim,†katanya.(*)
Pewarta: M.GhofarEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.