Tenggarong, (ANTARA Kaltim)- Kirab Budaya  sebagai awal rangkaian kegiatan Erau  Internasional Folklore and Art Festival (EIFAF) itu mulai  dari depan Kedaton Kesultanan
Kutai Kertanegara Ing Martadipura  dipadati masyarakat yang menonton.

"Supaya dapat tempat yang enak untuk nonton, makanya saya cari tempat yang teduh duluan," kata Lita salah satu warga bersama kedua anaknya, Sabtu (29/6)

Kirab budaya  dimulia pukul  13.00 wita , disejumlah tepi jalan yang akan dilalui  dipenuhi warga yang menonton, meskipun panas terik matahari tidak menyurutkan hasrat warga yang ingin menonton.  

Sementara  itu Bupati Kukar Rita Widyasari bersama unsur forum koordinasi pimpinan
daerah yang menempati panggung kehormatan tampak mengenakan kaca mata hitam untuk melindungi mata dari terik sinar matahari .

Banyaknya kerumunan penonton itupun  dimanfaatkan para pedagang untuk menjajakan
dagangannya, mulai pedagang minuman, makanan ringan, mainan anak-anak, hingga pedagang kaca mata. Tampak pedagang minuman laku keras, karena memang cuaca sangat terik.

Dalam kirab budaya itu ada sekitar  30 paguyuban kesenian  dari berbagai etnis di Kukar yang ambil bagian untuk tampil. Adapun kesenian yang ditampilkan di antaranya  mulai kesenian dari suku asli di Kukar menampilkan tari jepen ,  kemudian  suku Dayak Kenyah, Dayak Benuaq dengan tari Belian.

Selanjutnya  Dayak Modang dan Bahau menampilkan Hudoq,  serta  kesenianan lainya dari Sulawesi Selatan, Reog khas Jawa Timur, hingga dari Nusa Tenggara Barat dan
Nusa Tenggara Timur, serta  kesenian Bali .

Sementara itu di panggung kehormatan semua peserta menampilkan kebolehannya sehingga sekitar panggung itu penuh sesak oleh warga untuk melihat atraksi peserta kirab dari dekat.
Kirab budaya itu selesai sekitar pukul 16.00 wita, dan jalan yang tadinya padat oleh warga berangsur –angsur  normal kembali. (her)




Pewarta: Hayru Abdi
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026