Sebelum aliran saluran pembuangan berubah bentuk, kediaman kami tidak pernah kebanjiranTana Paser (ANTARA Kaltim) - Warga Desa Sempulang, Kecamatan Tana Paser, Kabupaten Paser, memprotes proyek pembangunan Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) yang disinyalir warga telah menyebabakan banjir di sekitar tempat tinggal mereka.
Salah seorang warga yang terkena banjir, Maskur, Rabu, mengatakan, sudah dua tahun terakhir rumahnya terendam jika hujan datang.
"Setelah diselidiki ternyata penyebab banjir yang merendam rumah warga adalah karena arah saluran pembuangan air kolam yang ada di sekitar proyek Madrasah Bertaraf Internasional (MBI)," kata Maskur.
Menurut Maskur, ia bersama warga lainnya yang mengalami nasib sama, telah beberapa kali mengungkapkan berubahnya kontruksi saluran pembuangan kolam yang berdampak pada terendamnya rumah warga kepada kepada Kepala Desa Sempulang.
Namun baru laporan ketiga disikapi Kepala Desa Sempulang, melalui surat yang ditujukan kepada Bupati Paser.
"Sebelum aliran saluran pembuangan berubah bentuk, kediaman kami tidak pernah kebanjiran. Namun setelah kontraktor yang mengerjakan pembangunan MBI merubah bentuk saluran yang semula lurus menjadi melingkar menyerupai huruf L, air mulai merendam rumah dan kebun yang ada di sekitar rumah kami," ujar Deni, warga Sempulang lainnya.
Deni menjelaskan, surat Kepala Desa Sempulang yang ditujukan kepada Bupati Paser meminta dua hal, pertama agar aliran sungai dialirkan ke jalur yang lama agar tidak terjadi banjir dan kedua agar bantuan Pemda Paser dapat membantu perbaikan kerusakan rumah warga.
Pembangunan MBI di Paser sendiri sebenarnya mulai dibangun di pertengahan tahun 2009, MBI akan difasilitasi 36 bangunan seperti bangunan kantor, laboratorium, ruang kelas, cafetaria, masjid, ruang komputer.
MBI lebih fokus pada Madrasah Aliyah (setingkat SLTA), angkatan pertama penerimaan siswa baru sebanyak 70 orang, dengan syarat nilai Ujian Nasional (UN) rata-rata 8.
Dalam perjalananya, Menteri Agama (Menag) sendiri pada bulan September 2011 lalu mengeluarkan instruksi untuk menghentikan proyek MBI di dua daerah di Kaltim, yakni di Kota Samarinda dan Kabupaten Paser.
Menag beralasan, selain menghemat anggaran, MBI dinilai masih belum efektif, karena lebih baik memaksimalkan madrasah unggulan yang di daerah. (*)
Pewarta: R WartonoEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.