Target Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang dilaksanakan Kementerian Pendidian dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Kaltim tersebut disebut ingin meningkatkan kesadaran  masyarakat tentang bahaya COVID-19.
 

Koordinator P2KPM-LP2M Universitas Mulawarman, Kiswanto mengatakan seluruh rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan Universitas Mulawarman termasuk KKN Tematik Relawan COVID-19 Nasional ini memang ditargetkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kegiatan KKN ini memang temanya adalah COVID-19 yang dilakukan secara daring dengan fokus luaran pada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap bahaya yang ditimbulkan COVID-19,” ujar Kiswanto ketika dikonfirmasi perihal Webinar COVID-19 Nasional Seri 2, Sabtu (5/9).

Karenanya, dosen pada Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman itu juga menghimbau masyarakat ikut bergotong royong memutus rantai penyebaran COVID-19.

Caranya dengan merubah kebiasaan hidupnya menjadi lebih sehat dan memperhatikan protokol kesehatan saat berinteraksi dengan orang lain.

“Unmul melalui LP2M juga ikut berpartisipasi dalam KKN Tematik COVID-19 sebagai upaya gotong-royong dan peningkatan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat dan stakeholders hingga di tingkat kelurahan/desa dalam penanganan COVID-19,” ujar Kiswanto

Lebih lanjut dia menyebut KKN Tematik Tema COVID-19 diikuti sebanyak 250 orang mahasiswa. Dilaksanakan mulai 17 Agustus 2020 hingga 17 September 2020.

Ini program Kemendikbud RI yang dilaksanakan di tiga provinsi tujuan, yakni Kaltim, Kaltara, dan Majene. Dibagi dalam 23 kelompok, yakni 21 kelompok di wilayah Kaltim, 1 kelompok wilayah Kaltara, dan 1 kelompok lainnya di Majene.

Sementara Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Balikpapan, dr. Dradjat Witjaksono, Sp.KJ. saat menjadi pemateri mengungkapkan, meskipun pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang paling dominan usia muda dalam rentang umur 19 hingga 45 tahun, namun pasien lanjut usia (Lansia) yang berumur di atas 45 tahun justru termasuk dalam kategori rawan meninggal.

"Berdasarkan usia penderita COVID-19, lebih dari 50 persen pasien terkonfirmasi positif berada dalam kelompok usia muda. Namun kelompok usia ini juga memiliki peluang sembuh yang sangat tinggi. Sementara persentase kematian akibat COVID-19 yang terbesar justru berada dalam kelompok lansia, " katanya.

Meksi begitu usia muda cenderung tidak percaya terhadap pandemi COVID-19, bahkan ada yang mengganggap kasus ini sebagai teori konspirasi. Namun perlindungan paling ketat justru harus dilakukan terhadap lansia.

Dalam kesempatan tersebut, dokter spesialis kesehatan jiwa tersebut menyarankan agar anak muda yang sedang sakit hendaknya tidak bertemu dengan keluarganya yang lansia. “Mayoritas lansia di Indonesia tinggal bersama tiga generasi yakni anak dan cucu. Apabila anak atau cucu ini sedang sakit, maka peluang untuk menular ke lansia akan sangat besar dan bahkan menjadi lebih parah karena umumnya lansia sudah memiliki penyakit kronis sebelum tertular,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjut dokter psikiater di RSJD Atma Husada Mahakam itu, diperparah dengan gangguan mental yang kerap melanda kaum lansia yang disebabkan oleh beberapa faktor fisik, psikologi, dan psikolososial.

“Paling rentan terjadi pada lansia, terutama wanita. Untuk itu, disarankan orang-orang yang bekerja di tempat keramaian dan harus kontak erat dengan banyak orang, apalagi di zona merah, hendaknya tidak kontak dengan keluarganya yang lansia, " serunya.

Sementara Dr. dr. Arie Ibrahim, Sp.BS (K) sebagai narasumber kedua membawakan topik kelainan fisiologis yang terjadi pada lansia (brain pathophysiology in elderly).

Menurut dr. Arie, Indonesia menuju struktur penduduk tua (ageing population) pada tahun 2035. “Persentase pendidik lansia pada tahun 2010 sekitar 7,56% dan diproyeksikan bisa meningkat menjadi 15,77% pada tahun 2023,” jelasnya.

Dosen pada Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman itu lantas menjelaskan bahwa lansia cenderung memiliki masalah kesehatan lebih banyak dibandingkan usia muda, seperti hipertensi, artritis, penyakit jantung, stroke, ginjal kronis, hingga kanker.

Kondisi tersebut diperparah dengan kenyataan bahwa lansia umumnya mengidap kombinasi dari beberapa penyakit tersebut.

Lebih lanjut dokter spesialis bedah syaraf di RSUD AW Syahranie itu menjelaskan tentang perkembangan otak mulai usia muda hingga lansia. Perkembangan otak dimulai dari embrio hingga semakin besar seiring perkembangan usia yang dikarenakan perkembangan sulcus yang ada di otak.

Penyakit yang kerap menyerang sistem kerja otak pada lansia adalah Alzheimer yang disebabkan oleh kelainan patologis.

“COVID-19 menyerang seluruh sistem yang bekerja dalam tubuh, yang sangat mempengaruhi kinerja otak,” jelas dr. Arie sembari mengingatkan perlu perhatian khusus untuk kesehatan lansia.

Webinar yang dimoderasi oleh dosen Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman yang juga Sekretaris IDI Provinsi Kalimantan Timur, Dr. dr. Swandari Paramita, M.Kes itu dihadiri lebih dari 500 peserta dari seluruh wilayah Indonesia yang menyaksikan melalui Zoom dan Youtube.

Pewarta: Arif Maulana

Editor : Abdul Hakim Muhiddin


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2020