Badan Pusat Statistik atau BPS Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menyebutkan terjadi penurunan daya beli masyarakat di daerah itu selama pandemi COVID-19.

"Daya beli masyarakat di wilayah Penajam Paser Utara selama pandemi Virus Corona turun sekitar tiga persen," ujar Kepala BPS Kabupaten Penajam Paser Utara, Achamd Yasid Wijaya ketika dihubungi di Penajam, Sabtu.

"Inflasi sejak Maret hingga Mei 2020 di Kabupaten Penajam Paser Utara dipengaruhi melemahnya permintaan masyarakat," ungkapnya.

Berdasarkan data BPS Kabupaten Penajam Paser Utara inflasi (kenaikan) masih terjadi, akibat naiknya sebagian indeks kelompok pengeluaran meliputi pakaian, air, listrik dan kesehatan.

Sementara di sisi lain pengeluaran seperti makanan dan minuman, lanjut Achmad Yasid Wijaya, justru mengalami deflasi.

Bahkan pada Lebaran Idul Fitri 2020, menurut dia, daya beli masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utara masih di bawah tahun sebelumnya.

"Daya beli masyarakat selama pandemi COVID-19 menurun, sejumlah pemilik warung maupun toko mengaku pendapatan menurun rata-rata sekitar 20 sampai 50 persen," jelas Achmad Yasid Wijaya.

"Kalau pertumbuhan perlu dihitung terlebih dahulu, tapi pastinya kami prediksi daya beli turun sekitar tiga persen selama pandemi," tambahnya.

Feri, pedagang makanan dan minuman di kilometer sembilan Kecamatan Penajam, mengaku selama pandemi Virus Corona mengalami penurunan pendapatan sekitar 50 persen.

Penurunan pendapatan hasil penjualan makanan dan minuman yang dialaminya tersebut terjadi sejak Maret 2020 hingga dua pekan terakhir ini.

"Sebelumnya pendapatan bisa mencapai Rp1.000.000 per hari, tapi selama pandemi COVID-19 menurun menjadi Rp500.000 atau Rp600.000 per hari," kata Feri.

Pewarta: Bagus Purwa

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2020