Tana Paser (ANTARA Kaltim) - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Paser H. Shafruddin mengatakan, kendala yang dihadapi jika "Full Day School" atau Sekolah sehari penuh diterapkan di daerah itu yakni, pengawasan orang tua.

"Kendalanya adalah pengawasan orangtua selama tenggang waktu penambahan jam hingga sore," kata Shafruddin di Tanah Grogot, Jumat.

Menurut dia, banyak orangtua yang belum siap untuk mengikuti program itu karena berbagai alasan sepeti masih bekerja saat penambahan jam belajar.

Program "Full Day School" kata Shafruddin, memang saat ini masih sebatas wacana yang dilontarkan ke masyarakat.

"Memang masih sebatas wacana dan hingga sampai saat ini pun masih ada pro dan kontra terkait wacana itu," ujar Shafruddin.

Penambahan jam belajar dalam "Full Day School" lanjut Shafruddin, sejatinya lebih difokuskan pada pelajaran yang bermuatan pengembangan keahlian, bakat dan pembentukan kepribadian.

Namun wacana itu menurut Shafruddin, justru menjadi tantangan bagi Disdik Paser apabila program "Full Day School" tersebut benar-benar harus diterapkan.

"Pada dasarnya, kami siap bila program sekolah sehari penuh itu diterapkan," kata Shafruddin.

"Namun memang untuk hal itu ada persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu," imbuhnya.

Ia optimistis, program sekolah sehari penuh bisa diterapkan di Paser, melihat keberhasilan beberapa sekolah swasta di daerah itu yang telah terlebih dahulu menerapkan pembelajaran hingga sore hari.

"Kami optimistis bisa menerapkannya, karena sudah ada sekolah swasta seperti SDIT Al-Khawarizmi yang menerapkan pembelajaran hingga sore hari," kata Shafruddin.

"Kualitas lulusannya dijamin bagus, bahkan bisa melebihi lulusan Sekolah Negeri," ujarnya.    (*)

Pewarta: R. Wartono

Editor : Amirullah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2016