Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur, Wiwin Suwinarti mengajak mahasiswanya membenahi Sungai Karang Mumus dengan cara mengarahkan presentasi mengenai sumber daya air dari sungai tersebut.

"Kalau Fakultas Kehutanan mahasiswanya banyak, tetapi untuk mata kuliah pilihan Pengendalian Pencemaran hanya ada 15 mahasiswa. Jadi, mereka inilah yang sekarang saya ajak memungut sampah di SKM (Sungai Karang Mumus), sekaligus pantauan awal terhadap kondisi sungai," ujar Wiwin ditemui di Samarinda.

Setelah ini, lanjutnya, para mahasiswa mendapat tugas melakukan presentasi mengenai kondisi SKM sesuai dengan hasil sementara pengamatan mereka di lapangan, termasuk bagaimana upaya yang perlu dilakukan untuk membenahi sungai menjadi fungsi sebenarnya bagi kehidupan masyarakat dan makhluk lain di dalamnya.

Dari sisi pengendalian pencemaran sesuai dengan bidang ilmu yang diperdalam oleh mahasiswanya, lanjut Wiwin, bisa dilakukan berbagai upaya, di antaranya di sisi kanan dan kiri sungai bisa ditanami berbagai jenis pohon maupun tanaman penyerap polutan (racun), seperti enceng gondong dan pohon kedamba yang merupakan tanaman khas Kalimantan.

Menurut ia, sumber daya SKM sebenarnya sangat besar jika dirawat dengan baik, karena sungai itu memiliki lebar 10-15 meter dengan kedalaman 5-10 meter, sehingga di bagian hulu masih dimanfaatkan oleh PDAM untuk memenuhi air bersih warga Samarinda.

"Jika kondisi sungai sekarang tidak tercemar, maka warga bisa memanfaatkan air tersebut secara langsung untuk mandi dan cuci, tetapi karena kondisi saat ini yang sudah tercemar, maka tidak layak digunakan," ujarnya.

Untuk itu, kehadirannya bersama mahasiswa di SKM diharapkan menjadi embrio untuk melakukan penelitian lebih lanjut, sekaligus gerakan nyata terhadap kebaikan SKM ke depan, karena jika benar-benar dirawat, maka dampak positifnya akan luas bagi masyarakat.

"Sumber daya air dari SKM merupakan aset besar bagi warga karena selain bisa memenuhi kebutuhan air bersih, sebagai lokasi wisata, pemancingan, lokasi terbuka, dan kegiatan ekonomi lain. Kami hanya bisa mendukung dari sisi keilmuan, sementara akan dijadikan apa sungai ini, merupakan kewenangan dan tugas pemerintah," katanya.

Ia juga mengaku salut dengan komunitas Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) yang selama ini bukan hanya mengampanyekan larangan membuang sampah, tetapi setiap hari juga memungut sampah bersama para relawannya.

"Saya melihat GMSS-SKM cukup serius dalam gerakannya. Kalau dicermati lebih jauh, sebenarnya secara tidak langsung mereka melakukan penyuluhan dan pendidikan terhadap lingkungan berupa ajakan kepada masyarakat dengan langsung memberi contoh," kata Wiwin lagi.(*)

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2016