Sangata (ANTARA) - Ahmad Yani, seorang bocah berusia 11 tahun tewas setelah diterkam buaya muara (Crocodilus porosus) saat berenang di kawasan sungai Karangan di RT 04 Desa Karangan Seberang, Kecamatan Karangan, Kabupaten Kutai Timur, Senin (7/6).

 "Kepala dan wajah korban yang masih duduk sebagai kelas 5 SD itu terluka parah dan nyawanya tidak tertolong," kata Kapolres Kutim AKBP Prasojo Wibowo didampingi Kapolsek Sangkulirang AKP Andi Razak, di Sangata, Kamis.

Buaya muara adalah satwa melata paling ganas dan agresif di "Bumi Borneo". Diduga satwa ini memasuki kawasan pemukiman warga karena habitatnya, yakni hutan mangrove kian rusak akibat ulah manusia, antara lain pembukaan lahan untuk tambak.

Kapolres mengatakan kejadian berawal saat korban sepulang sekolah bersama dua temannya yakni Rijal (8) dan Rian (10) berenang di pinggir sungai tak jauh dari rumahnya.

"Setelah sekitar dua jam lebih bermain di sungai, tiba-tiba seekor buaya langsung menerkam Ahmad Yani, dan menenggelamkannya ke dalam sungai. Dua temannya yang selamat dari terkaman buaya berenang ke tepi sungai dan melaporkan kepada warga," katanya 
  
Warga langsung melapor ke Pos Polisi Karangan, beberapa angota Pos Pol yang dibantu anggota Brimob yang tengah melakukan pengamanan di perusahaan kelapa Sawit PT Guta Samba langsung menuju lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Sesampainya di lokasi, buaya yang mempunyai panjang sekitar empat  meter itu masih mengapung, sementara korban masih berada di dalam moncong buaya itu dan hanya kaki korban saja yang tampak menyembul keluar.

Saat polisi hendak menembak, buaya itu langsung memuntahkan korbannya dan kembali menyelam ke dalam sungai. Beberapa warga pun berenang dan dan mengevakuasi jasad Ahmad Yani  dan keesokan harinya jenazah dikebumikan di pemakaman umum setempat.

Kapolsek Sangkulirang AKP Andi Razak menambahkan peristiwa warga di makan buaya bukan kali pertama terjadi di Karangan namun tewasnya Ahmad Yani merupakan korban pertama di tahun 2010 ini
  
Sebetulnya masyarakat di Karangan sudah terbiasa dengan binatang predator itu karena saat air sungai surut warga sering  melihat belasan bahkan puluhan buaya kerap berjemur di pinggiran sungai.

"Melihat buaya merupakan pemandangan biasa bagi warga Karangan dan sekitarnya, apalagi saat air sungai lagi surut, banyak buaya berjemur dan masyarakat sekitar tetap juga mandi dan mencuci di sungai," katanya
 
Pihak Polsek Sangkulirang sudah meminta warga agar waspada jika melakukan aktifitas di sungai. Sebelumnya bulan Maret 2010 buaya juga memangsa Sahar seorang nelayan warga (40), warga RT 4 Dusun Takat, Desa Manubar, Kecamatan Sandaran.

Saat itu perahu yang ditumpangi Sahar disambar buaya yang nyaris mengakibatkan perahu tenggelam.

Pewarta:

Editor : Iskandar Zulkarnaen


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2010