Penajam (ANTARA News Kaltim) - Warga Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim mengeluhkan akibat kelangkaan semen yang diduga akibat kondisi jalan rusak sehingga menghambat penyalurannya.

"Setelah melakukan monitoring persediaan barang di wilayah PPU, kami mendapatkan data keberadaan semen di wilayah Sepaku langka atau sulit didapatkan," kata Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (Diskukmperindag) Kabupaten PPU Arnold Mayong di Penajam, Rabu.

Masalah kelangkaan itu diduga terkait dengan kondisi jalan dari Kilometer 38 menuju ke Silkar Desa Giri Mukti sehingga Kecamatan Sepaku mengalami masalah dengan pengadaan bahan bangunan tersebut.

Dari hasil monitoring, imbuh dia persediaan barang di wilayah Sepaku, tim menemukan banyak toko bangunan tidak memiliki persediaan semen.

"Hal tersebut diakibatkan kerusakan jalan di wilayah Sepaku, sehingga pendistribusian semen sulit dilakukan," ujarnya.

Pihaknya akan segera  melakukan koordinasi dengan distributor semen, terkait persediaan barang kebutuhan di wilayah PPU, termasuk persediaan semen di Sepaku.

"Terjadinya kalangkaan kemungkinan diakibatkan kondisi jalan Sepaku yang rusak, sehingga transportasi pengiriman semen terhambat serta menelan biaya pengiriman yang cukup tinggi," ujarnya

Selain berkoordinasi dengan distributor semen, tambah Arnold, pihaknya juga akan melakukan koordinasi dengan distributor barang lainnya, guna menjaga persediaan barang kebutuhan di pasaran di wilayah Sepaku termasuk daerah lainnya.

"Selain Semen, beberapa kebutuhan bahan pokok di Sepaku juga mulai berkurang," ucapnya

Camat Kecamatan Sepaku Daman mengakui jika  harga kebutuhan bahan pokok dan bangunan di Kecamatan Sepaku melambung tinggi, akibat kondisi jalan yang rusak parah.

"Untuk harga semen 50 kilogram di Kecamatan Sepaku mencapai Rp95.000 bahkan hingga mencapai Rp100.000 per zak. Sedangkan diluar Kecamatan Sepaku harga hanya sekitar  Rp70.000 hingga Rp75.0000 per zak," kata Daman.  (*)



Pewarta: Bagus Purwa
: Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026