Rombongan terpaksa melalui jalan rusak dan menembus jalur tanah, serta pengerasan area perusahaan karena hanya jalan ini yang ada.
Untuk menuju Busang, rute tercepat dari Samarinda adalah melalui Kecamatan Tenggarong Seberang hingga Separe, kemudian memotong area perusahaan perhutanan dan perkebunan sawit, menyeberangi Sungai Kelinjau menggunakan feri kayu sederhana yang hanya muat satu mobil, baru kemudian sampai di Busang.
Waktu tempuh Samarinda-Busang sekitar 8-10 jam jika kondisi jalan tanah normal. Namun jika dalam keadaan hujan, bisa bermalam di tengah hutan karena jalur yang dilintasi bisa licin dan ambles. Belum lagi jika tersesat di jalan perkebunan sawit karena banyak simpangan yang mirip dan tak ada tanda arah.
Sebenarnya, jarak antara Samarinda dan Busang tidak terlalu jauh karena tidak sampai 300 kilometer, sehingga jika jalan bagus bisa ditempuh hanya dalam waktu 4-5 jam. Namun karena kondisi jalan yang ekstrem, maka waktu tempuhnya menjadi dua kali lipat.
Busang merupakan kecamatan yang pernah dilaporkan memiliki cadangan emas fantastis pada 1995. Cadangan emasnya dilaporkan mencapai 200 juta ounces (6.200 ton), sama dengan delapan persen dari seluruh cadangan emas dunia.
Namun, laporan dari Kanada ini akhirnya diketahui hanya muslihat perusahaan tambang emas Bre-X Minerals, karena perusahaan ini hampir bangkrut sehingga bersandiwara menemukan cadangan emas di belantara Indonesia, guna menaikkan harga saham perusahaan.
Skandal Tambang Emas Busang atau Skandal Bre-X ini diawali pada 1993. Ketika itu, seorang ahli geolog asal Filipina, Michael de Guzman, menjelajahi sejumlah hutan di Kalimantan.
Saat ia ke luar rimba membawa kabar luar biasa dan mengguncangkan dunia, karena ia mengaku menemukan jutaan ton cadangan emas yang siap ditambang.
Ia kemudian memproduksi ribuan contoh emas dan berhasil menarik para investor untuk menanamkan modalnya di perusahaan tambang Kanada tempatnya bekerja, Bre-X Minerals. Dari sinilah kemudian harga Bre-X naik drastis.
Kisah penipuan dramatis sepanjang sejarah tambang emas yang sempat membuat banyak orang rugi besar setelah menanamkan sahamnya ini, bahkan diangkat dalam film layar lebar oleh Hollywood dengan judul "Gold".
Sejak saat itu, nama Busang mendunia. Kecamatan kecil di pinggiran Kalimantan Timur yang hanya dihuni enam desa ini menjadi terkenal sejagat raya. Sayang, ketenarannya akibat tipu muslihat.
Jika benar cadangan emas Busang mencapai 6.200 ton, mungkin kawasan ini tidak tertinggal seperti sekarang. Mungkin kawasan ini akan menjadi metropolis, tidak gelap gulita seperti sekarang ketika malam, karena hingga kini Busang belum teraliri listrik dari PLN.
Kandungan emas di kawasan Busang memang ada, tapi cuma sedikit sehingga hanya bisa dilakukan penambangan tradisional oleh warga setempat. Minimnya cadangan ini membuat tidak memenuhi skala ekonomi bagi satu perusahaan.
Hingga saat ini, kawasan sungai dan pegunungan yang pernah diisukan memiliki banyak cadangan emas itu masih dilakukan tambang semitradisional oleh warga setempat.
Jarak menuju lokasi yang bisa ditambang cukup jauh dan medan sangat ekstrem sehingga hanya mereka yang bermental tangguh dan fisik kuat yang mampu melakukannya.
Medan ekstrem tersebut karena dari Desa Long Lees, Ibu Kota Kecamatan Busang, harus berketinting melalui Sungai Kelinjau ke arah hulu selama sehari atau sekitar 11 jam.
Dari sini, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui belantara dan naik turun perbukitan sekitar 4-7 hari, baru sampai di lokasi pendulangan emas rakyat tersebut.
Fakta terkini, Busang masih tertinggal karena minimnya fasilitas maupun prasarana pendukung, seperti belum ada penerangan listrik dari PLN, belum ada perbankan, dan masih minimnya infrastruktur dasar masyarakat.
Status Tertinggal
Impung Anyeq, Camat Busang, saat ditanya mengenai mengenai apa yang akan dilakukan untuk kawasannya yang masih tertinggal, ia tersinggung dan tidak rela bahwa Busang berstatus tertinggal.
Ia bilang, sangat tidak benar jika Busang dikatakan tertinggal tetapi sangat atau ekstrem tertinggal.
"Anda merasakan sendiri bagaimana sulitnya perjalanan untuk sampai ke Busang, makanya saya heran dengan indikator yang digunakan pemerintah hingga menentukan Busang berstatus tertinggal," katanya.
Pernyataan Impung ini logis, karena akses menuju Busang harus melalui jalan tanah, pengerasan yang rawan ambles, becek dan licin saat hujan.
Selain itu, harus melintasi jembatan kayu yang sangat tidak layak, bahkan harus menyeberang dengan feri kayu yang sangat sederhana.
Waktu tempuh dari Sangatta, Ibu Kota Kutai Timur menuju Kecamatan Busang sekitar delapan jam melewati Kecamatan Muara Wahau dengan kondisi jalan rusak dan sebagian besar pengerasan melewati jalur perkebunan kelapa sawit.
Sedangkan dari Kota Samarinda, Ibu Kota Provinsi Kaltim, waktu tempuhnya antara 8-10 jam dengan kondisi jalan yang lebih ekstrem karena ada jembatan kayu gelondongan yang satu sisihnya patah, bahkan ada jembatan kayu yang harus ditata dulu jika akan dilintasi.
Ditambah lagi kemungkinan tersesat sangat besar, karena melintasi jalur perkebunan sawit yang setiap satu kilometer ada persimpangan jalan yang semuanya nyaris sama.
Atas kondisi itu, lanjutnya, maka Busang merupakan kecamatan yang bukan hanya berstatus tertinggal, tetapi juga ekstrem sehingga perlu perhatian khusus dari pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan pembangunan, terutama infrastruktur dasar.
Menurut ia, jika infrastruktur dasar terpenuhi, tinggal melakukan pengembangan usaha ekonomi, baik bidang pertanian maupun UMKM.
Hingga saat ini, kondisi semua desa di Kecamatan Busang belum menikmati jaringan listrik dari PLN.
Untuk mendapatkan pasokan listrik, sebagian warga yang mampu, membeli generator set (genset) dan sebagian lagi, terutama di Desa Long Lees, ada genset dari puskesmas guna membantu masyarakat dengan daya maksimal 450 kwh per rumah dan hanya menyala mulai senja hingga pukul 23.00 Wita.
Untuk air bersih, belum semua desa mendapat pelayanan sehingga hal ini juga menjadi prioritas, baik melalui program pemerintah maupun dari dana desa, agar ke depan warga Busang bisa mendapat hak yang sama seperti warga di daerah lain yang saat ini lebih maju.
Belum Merdeka
Saat dialog interaktif antara DPMPD Kaltim dengan warga Busang di lamin adat Desa Long Lees dalam kaitan kunjungan kerja, salah seorang tokoh adat setempat mengaku Busang belum merdeka, baik merdeka dari gelap, merdeka dari kesehatan, merdeka dari pendidikan, dan merdeka dari kemajuan ekonomi.
Hal yang paling terasa adalah belum merdeka secara ekonomi karena untuk menjual hasil panen saja, warga rela hasil panennya dijual dengan harga sangat murah karena ongkos angkutnya yang mahal akibat medan yang ekstrem.
Kecamatan Busang sesungguhnya termasuk wilayah yang kaya akan hasil pertanian dan perkebunan, namun warganya tidak bisa sejahtera karena kesulitan memasarkan hasil produknya ke luar daerah seiring dengan akses jalan yang buruk.
"Untuk lahan padi saja luasnya paling kecil 2.000 hektare, belum termasuk padi gunung, kemudian ada perkebunan kakao dan karet. Jika kondisi ini dibiarkan, maka petani bisa beralih ke perkebunan sawit karena ada perusahaan sawit yang siap menampung," ujar Impung.
Ia khawatir jika banyak warga yang mengalihkan lahannya untuk perkebunan sawit akibat dari iming-iming hasil yang lebih besar, sehingga program ketahanan pangan terancam.
Apalagi, jika ada perusahaan tambang yang masuk dan berniat membeli perkebunan warga untuk dialihfungsikan, tentu hal ini akan makin mengancam ketahanan pangan warga, mengingat saat ini sudah ada satu perusahaan tambang batu bara yang beroperasi dan akan masuk lagi satu perusahaan pertambangan.
Jumlah warga Kecamatan Busang 5.048 jiwa dari 1.298 kepala keluarga dengan 90 persen pendapatan warga dari hasil pertanian dan perkebunan, seperti perkebunan kakao lebih dari 1.000 hektare dan ada ratusan hektare perkebunan karet yang produktif.
Namun, semua hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan sungai yang ada di kawasan itu belum bisa menyejahterakan masyarakat.
Harga jual hasil pertanian, perkebuna, dan perikanan terlalu rendah akibat dari kondisi jalan yang memprihatinkan. Biaya angkut komoditas pertanian terlampau tinggi.
Jika petani mempertahankan harga tinggi, lanjut dia, maka pembeli tidak akan berani datang lagi, karena pembeli hasil pertanian harus menghitung tingkat kesulitan membawa barang, bahkan bisa bermalam di jalan ketika hujan akibat jalan berlumpur dan ambles sehingga tidak bisa dilewati.
Atas posisi tawar yang lemah ini, lanjutnya, petani di Kecamatan Busang terpaksa menjual hasil panen dengan murah agar tetap bertahan hidup dari penghasilan yang diperoleh, walaupun sesungguhnya masih sangat rendah.
Untuk itu, Impung meminta pemerintah provinsi dan pusat memperhatikan kondisi wilayahnya yang ekstrem tersebut, yakni dengan membangun jalan dan semenisasi atau pengaspalan. Terlebih karena orientasi pemerintah saat ini adalah membangun Indonesia dari pinggiran.
Infrastruktur lain yang diperlukan bagi warga Busang adalah pembangunan jembatan, mengingat pemukiman warga yang tersebar di enam desa itu dipisahkan oleh Sungai Kelinjau.
Sementara satu-satunya jembatan yang ada di Busang adalah jembatan gantung yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan pengendara sepeda motor sehingga jika ada mobil masuk terpaksa harus naik feri dengan harga Rp75 ribu per sekali jalan. Sungguh harga yang fantastis untuk ukuran penyeberangan sungai.
Warga juga ingin ada pembangunan jalan, baik menuju Muara Wahau atau jalan untuk menghubungkan ke Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, agar hasil pertanian warga bisa diangkut ke Samarinda maupun Sangatta.
Itulah fakta yang terjadi di Busang saat ini yang harus menjadi perhatian bersama semua pihak.
Upaya mengentaskan masyarakat kawasan pinggiran di Busang tersebut harus dilakukan agar mereka bisa menikmati hasil pembangunan. Dan, hal utama yang perlu dicukupi adalah infrastruktur dasar. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.