"Kehadiran kami ke PWI Kaltim dalam rangka Kuliah Kerja Lapangan Dalam Negeri (KKLDN) Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler (Dikreg) LV Seskoad 2017," ucap Mayor Erwinsyah Taufan, salah seorang Pasis mengenalkan diri mewakili Pasis lainnya di PWI Kaltim di Samarinda, Rabu.
Erwinsyah menyebutkan satu per satu para Pasis yang selama ini bertugas dari berbagai kesatuan dari berbagai daerah, antara lain dari Siliwangi, Bandung, Aceh, Kupang, Papua, Tangerang, Malang, Palembang, Semarang, dan Pusat Intelejen Angkatan Darat Jakarta.
Menurutnya, PWI menjadi salah satu tempat yang dikunjungi dalam menyerap informasi mengenai penanganan bencana alam baik antisipasi, tindakan saat kejadian, maupun pascabencana, karena wartawan sering meliput sejumlah kejadian sehingga mengetahui kondisi riil.
Apalagi di PWI Kaltim juga sudah terbentuk kelompok yang lebih konsentrasi mengenai bencana, yakni Wartawan Peduli Bencana (Wapena) dengan Ketua Amir Hamzah, sehingga kedatangannya ke PWI menjadi hal yang tepat.
Dalam hal ini, pihaknya ingin para wartawan bercerita sinergitas antara pemerintah daerah dengan lembaga, komunitas, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam penanganan bencana, sehingga cepat diambil tindakan sesuai prosedur standar.
"Apapun informasi yang kami peroleh dari Kaltim baik yang kami dapat dari PWI maupun dari pemerintah daerah, nantinya akan kami laporkan kepada Kementerian Dalam Negeri, guna membuat rumusan dalam model antisipasi, penanganan bencana, maupun tindakan yang harus dilakukan setelah bencana terjadi," ujarnya.
Kedatangan para Mayor ini disambut sejumlah anggota PWI Kaltim antara lain Maturidi selaku Ketua Dewan Kehormatan, Imron Rosyadi selaku Ketua Bidang Organisasi, dan Shahab selaku Wakil Sekretaris.
Menurut Maturidi, Wapena merupakan wartawan yang aktif meliput dan memberikan informasi tentang bencana pada masyarakat. Wartawan dibekali teknik meliput bencana karena jangan sampai saat melakukan tugas di lapangan, justru wartawan yang menjadi korban.
Beberapa informasi dari wartawan yang disampaikan kepada para Pasis antara lain mengenai sinergitas yang terjalin baik saat menangani bencana, kemudian penanganan pascasarjana yang kurang tegas, seperti kebakaran rumah di bantaran Sungai Karang Mumus yang merupakan jalur hijau, seharusnya di lokasi itu langsung dipasang patok larangan membangun rumah. (*)
Pewarta: M Ghofar: Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.