Menurut Sapto Setyo Pramono yang ditemui di Samarinda, Rabu, selain pengawasan di lapangan, Dinas Peternakan juga harus menyosialisasikan sekaligus memantau penyalur-penyalur sapi agar sapi pemakan sampah tidak sampai beredar dan dikonsumsi oleh masyarakat.
"Bukan hanya menjelang Idul Adha, namun hari-hari biasa juga jangan sampai sapi jenis ini dikonsumsi masyarakat. Apalagi ada penelitian bahwa sapi pemakan sampah rawan terkontaminasi zat logam berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan," katanya.
Sapto juga mengingatkan kepada pedagang sapi kurban musiman agar bersikap jujur dalam menjual sapi untuk keperluan kurban, sehingga tidak merugikan masyarakat.
"Jangan sampai mencederai niat baik berkurban dengan menjual sapi yang mengandung unsur berbahaya. Tidak menutup kemungkinan sapi gelondongan maupun sapi dengan kriteria tidak sehat lainnya juga beredar," tambahnya.
Politikus Partai Golkar ini juga mengimbau masyarakat yang hendak membeli sapi kurban dan konsumen daging sapi agar selektif dalam memilih.
Hal ini sekaligus menjadi kewajiban dinas terkait mengontrol sapi kurban jauh hari sebelumnya.
Kriteria sapi pemakan sampah boleh dikonsumsi melalui karantina selama tiga bulan dengan memberi makan rumput sebelum disembelih.
Sapto khawatir hal ini akan membuka celah beredarnya daging sapi pemakan sampah yang lolos dari seleksi karantina akibat lemahnya pengawasan.
Namun demikian, Sapto tetap mengapresiasi langkah yang telah dijalankan Dinas Peternakan Kaltim dalam mempersiapkan 11.000 ekor ternak sapi dan pembekalan budidaya sapi kepada kelompok peternak.
"Masalah sapi pemakan sampah yang dijadikan hewan kurban ini memang marak terutama di Jawa Tengah, kita berharap kejadian tersebut tidak sampai ada di Kaltim," tambahnya. (*)
Pewarta: ArumantoEditor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.