Keberadaan jembatan ini sangat vital sebagai urat nadi logistik, sehingga prasarana ini membantu menggerakkan ekonomi Samarinda khususnya dan Kalimantan Timur (Kaltim) umumnya

Samarinda (ANTARA) - Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman Hairul Anwar menyatakan, Jembatan Mahakam I Samarinda merupakan urat nadi logistik baik dari sisi jalan maupun sungai, sehingga keberadaannya harus mendapat perlindungan, jangan sampai tertabrak tongkang lagi.

"Keberadaan jembatan ini sangat vital sebagai urat nadi logistik, sehingga prasarana ini membantu menggerakkan ekonomi Samarinda khususnya dan Kalimantan Timur (Kaltim) umumnya," kata Jody, sapaan akrab Hairul, di Samarinda, Rabu malam.

Dari sisi jalan, jembatan ini menjadi penghubung sosial, ekonomi, dan beragam aktivitas. Sedangkan dari sisi sungai, menjadi peradaban kota mulai dari aktivitas budaya hingga ekonomi, seiring hilir mudiknya kapal tongkang pengangkut batu bara dan berbagai logistik.

Untuk itu, ia minta KSOP dan Pelindo lebih serius dalam menangani aktivitas pelayaran yang melintasi Sungai Mahakam, terutama ketika di bawah jembatan, agar tidak terulang lagi kasus tertabraknya fender jembatan.

“Umur jembatan tentu memiliki batas namun batsanya tentu lama, tapi jika terus menerus ditabrak, tentu ini akan memperpendek umur. Mumpung jembatan ini masih kokoh, maka KSOP dan Pelindo harus ketat melakukan pengaturan agar keamanan agar keamanannya terjamin dan ekonomi tetap berjalan,” kata Jody.

Menurutnya, pengelolaan jalur angkutan batu bara dan aktivitas pelayaran yang melintas di bawah jembatan harus mendapat perhatian serius, karena jembatan merupakan objek vital yang fungsinya untuk kepentingan publik, sehingga wajar jika publik bereaksi terhadap seringnya jembatan tersebut ditabrak tongkan.

Hingga 2025, Jembatan Mahakam I Samarinda sudah 23 kali ditabrak oleh kapal tongkang pengangkut batu bara, sehingga pengawasan dan aktivitas pelayanan saat melintasi bawah jembatan harus dilakukan secara ketat dan hati-hati.
 

Terkait dengan viralnya di media sosial mengenai gaya bicara Wakil Ketua DPRD Kaltim Ananda Emira Moeis, saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kapal menabrak Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam Ulu yang menuai beragam tanggapan publik, Jody turut angkat bicara.

Ia menilai fenomena tersebut merupakan hal wajar dalam dinamika politik dan komunikasi publik di era media sosial, karena saat ini hampir semua isu mudah menjadi perhatian publik.

"Kondisi ini dipengaruhi oleh perkembangan praktik citizen journalism yang membuat potongan video atau pernyataan mudah viral di medsos. Apa saja bisa dipotong-potong lalu menjadi narasi yang ramai di medsos. Semua orang punya kepentingan dan sudut pandang,” kata Jody.

Ia menilai publik tidak hanya menilai substansi pernyataan seorang pejabat, tetapi juga cara penyampaiannya. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi politisi yang bekerja di ruang publik.

“Legislatif memang harus belajar bahwa substansi itu penting. Namun ada juga masyarakat yang melihat penampilan atau cara berbicara. Itu bagian dari pekerjaan politik, karena mereka berhadapan langsung dengan publik,” kata Jody.

Namun perlu diingat, hal  terpenting adalah substansi dari pesan yang disampaikan. Selama substansi tetap ada dan menyangkut kepentingan publik, polemik terkait gaya komunikasi tidak akan terlalu berpengaruh dalam jangka panjang.

“Yang berbahaya itu kalau substansinya tidak ada dan penampilannya juga tidak baik. Kalau substansinya ada, sisanya tinggal soal jam terbang saja. Yang viral ini kan substansinya ada, yakni kapal yang terus menabrak jembatan. Ini yang harus mendapat perhatian," ujar Jody.



Pewarta: Novi Abdi
Editor : M.Ghofar

COPYRIGHT © ANTARA 2026