Ada banyak jenis usaha yang tergarap dari Akademi Desa yang didampingi oleh Pendamping Sigap (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) Berau, seperti ternak ayam, pariwisata, perkebunan kakao, dan berbagai jenis usaha lain yang dikelola oleh Badan Usah
Samarinda (ANTARA) - Program Akademi Desa yang digagas oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara bekerja sama dengan Pemprov Kalimantan Timur, telah berhasil menyasar 20 kampung dari total 100 kampung/desa di kabupaten paling utara di Kaltim tersebut.  


"Program Akademi Desa yang diluncurlan sejak Desember 2020, hingga saat ini telah berhasil menyasar dan memberdayakan 20 desa," ujar Senior Manajer Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Provinsi Kaltim Niel Makinuddin di Samarinda, Jumat.

Saat ini, lanjutnya, memang belum semua kampung di Berau yang tersasar dari program ini, namun pihaknya menargetkan tiap tahun akan terus melakukan penambahan, sehingga pada akhirnya semua kampung di Berau mendapat manfaat dari program tersebut.

Dalam implementasinya, Program Akademi Desa menggandeng Sanggar Inovasi Desa dari Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Isitmewa Yogyakarta.

Penerapan yang dilakukan dari Akademi Desa adalah melakukan pendekatan potensi, sehingga warga kampung yang sebelumnya tidak menyadari adanya aset atau potensi di kampung masing-masing, secara perlahan mulai paham, kemudian memanfaatkan potensi tersebut.

Atas dasar pendekatan potensi lokal itu, lanjutnya, saat ini banyak kampung yang berhasil menggali dan menumbuhkan ekonomi lokal dengan tetap memperhatikan konservasi alam.

"Ada banyak jenis usaha yang tergarap dari Akademi Desa yang didampingi oleh Pendamping Sigap (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan) Berau, seperti ternak ayam, pariwisata, perkebunan kakao, dan berbagai jenis usaha lain yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam)," ucap Niel.

Dalam pengembangan ekonomi berbasis masyarakat ini, pihaknya menerapkan ekonomi ekologi, sehingga ekonomi masyarakat berjalan sesuai perencanaan bersama, kemudian ekologi atau konservasi alam tetap menjadi perhatian.

Dalam pengembangan perkebunan kakao misalnya, lanjut Niel, selain tetap memperhitungkan ekologi dalam pengelolaannya, petani juga diimbau tidak membuka lahan baru, namun mengoptimalkan lahan yang ada, sehingga terus dilakukan pendampingan dalam optimalisasi lahan tersebut.

"Dari perkebunan kakao yang terus dilakukan pendampingan ini, mereka telah berhasil melakukan ekspor kakao Jerman. Kemudian tanggal 20 Januari mendatang akan ada lagi peluncuran ekspor kakao di Jakarta yang insyaallah akan dihadiri oleh Bupati Berau," kata Niel. 

Pewarta: M.Ghofar
Editor : Abdul Hakim Muhiddin

COPYRIGHT © ANTARA 2026