Nunukan (ANTARA Kaltim) - Harga material bangunan khususnya batu gunung dan agregat atau batu ukuran kecil (kerikil) di Kabupaten Nunukan Kalimantan Timur mengalami lonjakan tajam sejak sebulan terakhir.

Sejumlah warga dan kontraktor di Kabupaten Nunukan, Jumat, mengakui telah terjadi lonjakan harga material khususnya batu gunung, agregat dan pasir sejak sebulan terakhir ini yang menyebabkan terhambatnya proses pembangunan.

Beberapa warga Sedadap Kecamatan Nunukan Selatan Kabupaten Nunukan, yang berhasil ditemui mengatakan pembangunan rumah tinggalnya terhambat akibat dari melonjaknya harga batu gunung dan pasir dari Rp600 ribu per empat kubik menjadi Rp1 juta-Rp1,2 juta per empat kubik.

Lonjakan tersebut sangat meresahkan warga maupun kontraktor di wilayah itu karena kenaikannya mencapai 100 persen atau sekitar Rp600 ribu, kata seorang warga.

"Kalau harga pasir sendiri kenaikannya tidak melonjak drastis dari Rp250 ribu menjadi Rp300 ribu per satu truk," ujar Asrawati, seorang ibu rumah tangga di Sedadap yang mengaku pembangunan pondasi rumahnya dihentikan sementara waktu menunggu harga material kembali normal.

Ia menduga kenaikan harga material bangunan lebih disebabkan oleh maraknya pembangunan proyek yang membutuhkan penyelesaian menjelang akhir tahun.

Jadi, katanya, karena banyaknya permintaan tersebut sehingga sopir truk memasang harga dengan berbagai alasan.

Seorang sopir truk yang sehari-harinya mengangkut material bangunan berupa batu gunung dan pasir bernama Leo di Nunukan, Jumat mengakui adanya kenaikan harga material batu gunung yang sangat siginifikan karena selain banyak permintaan juga oleh sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).

Ia mengatakan, faktor pertama sehingga harga batu gunung dan pasir mengalami kenaikan cukup signifikan karena sangat sulit mendapatkan BBM.

"Kita biasa mulai antre subuh hari, dan baru dapat menjalng siang hari. Jadi betapa sulitnya mendapatkan BBM di Nunukan ini," ujarnya.

Dengan kondisi inilah, kata Leo, harga material batu gunung dan agregat yang lokasinya sangat jauh ditambah jalanan yang rusak parah maka harga harus dinaikkan sebab jika tidak, maka sopir akan mengalami kerugian mulai dari banyaknya waktu tersita mengentre BBM ditambah lagi lokasi pengambilan material yang sangat jauh.

"Kenaikan harga batu gunung dan pasir karena sulitnya mendapatkan BBM. Jadi mau tidak mau kita harus naikkan harga kalau tidak mau rugi. Memang harga batu gunung sebelumnya kita jualkan Rp600 ribu per empat kubik sekarang kita jual kepada orang Rp1 juta sampai Rp1,2 juta tergantung jarak tempuhnya," kata Leo.

Leo menambahkan, mengenai batu gunung dan pasir sebenarnya yang modali adalah para sopir dan mereka menjual kembali kepada pelanggannya atau yang memesan.

"Sebenarnya batu gunung, pasir atau agregat itu, para sopir yang bayar duluan kepada pemilik batu. Kita jual kepada pelanggan yang memesan," katanya jujur.

Kenaikan harga tersebut tidak dibarengi dengan kenaikan batu gunung di lokasi pemecahan batu gunung di Sei Fatimah Desa Binusan Kecamatan Nunukan.

Salah seorang pekerja bernama Bagean Jumaan mengatakan upah kerja yang diperolehnya dari majikan pemilik lahan batu gunung di Sei Fatimah sebesar Rp40.000 per kubik, dan menurutnya belum mengalami kenaikan sejak beberapa tahun lalu.

Kemudian juragan batu gunung bernama Boy yang ditemui Jumat (7/12) mengatakan harga batu gunung miliknya masih normal sebagaimana awalnya yaitu Rp100.000 per kubik.

"Harga masih tetap seperti dulu, belum pernah naik," katanya singkat.

Boy mengaku tidak tahu menahu soal adanya kenaikan harga batu gunung tersebut. (*)

Pewarta: M.Rusman
Editor : Rahmad

COPYRIGHT © ANTARA 2026