"Kami harap Kaltim bisa menjadi pelopor pemanfaatan energi alternatif, energi yang murah dan melimpah," kata Menristek Gusti Muhammad Hatta di Balikpapan, Rabu (21/11) malam.
Menteri mengatakan hal itu ketika memberikan pengarahan Focus Group Discussion, Identifikasi Kebutuhan Teknologi seta Potensi Teknologi Aplikatif untuk Mendukung Program MP3EI Koridor Kalimantan di Hotel Le Grandeur.
Menteri Hatta mengatakan, untuk membangkitkan 1.000 megawatt (MW) listrik selama 24 jam cukup dengan satu gram uranium yang sudah diperkaya dalam reaktor.
Jika menggunakan batubara, pembangkitan listrik sejumlah itu memerlukan ratusan ton emas hitam.
Listrik 1.000 MW dari satu pembangkit itu cukup untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh Kalimantan.
"Selain itu kondisinya lebih bersih, tanpa asap yang dilepaskan ke atmosfer sehingga tidak menambah pemanasan global," ujar Menteri yang lama berkarir sebagai dosen di Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan itu.
Dalam hal pembangkit listrik, sebetulnya PLTN adalah pembangkit listrik tenaga uap. Tenaga dari reaksi nuklir digunakan untuk memanaskan air dalam ketel untuk membuat tekanan uap.
Uap bertekanan tinggi itulah yang digunakan untuk memutar turbin yang memotong medan magnet dan menciptakan listrik.
"Reaksi nuklirnya kita kontrol di dalam reaktor. Sangat aman. Apalagi Kalimantan tidak ada gunung api, tanahnya sangat stabil. Juga jauh dari tsunami," ujar Menteri Hatta.
Apalagi uranium sebagai bahan bakar tersedia melimpah di Kalimantan, baik di Kalimantan Timur, Tengah, maupun Kalimantan Barat.
Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak pada kesempatan menjelaskan, pihaknya segera melakukan studi untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pada tahun 2013.
Tim studi tapak atau studi kelayakan itu sudah dibentuk.
"Kita ingin agar teknologi nuklir damai ini dapat terealisasi di Kaltim, sebagai antisipasi menipisnya cadangan energi fosil migas dan batubara yang digunakan untuk membangkitkan listri," ujar Gubernur Awang Faroek Ishak.
Pengembangan nuklir damai sebagai PLTN, menurut Kepala Badan Tenaga Atom Nasional, Djarod Sulistio Wisnubroto, memerlukan waktu hingga sepuluh tahun dan investasi hingga Rp25 triliun.
"Makanya kita mulai sekarang, saat kita masih memiliki sumber daya alam," lanjut Gubernur Awang. (*)
Pewarta: Novi AbdiEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.