Samarinda (ANTARA Kaltim) -  The Nature Conservancy (TNC) mengarahkan perusahaan penebangan kayu hutan di Provinsi Kalimantan Timur menggunakan mesin pancang (monocable winch) untuk menarik kayu log, karena dampak positifnya lebih besar ketimbang menggunakan bulldozer.

"Banyak sisi positif penggunaan monocable winch, seperti banyak menyerap tenaga kerja dan tingkat kerusakan hutan juga lebih sedikit ketimbang menggunakan bulldozer," kata Bambang Wahyudi, Manager Improved Forest Management (IFM) Indonesia Terrestrial Program, TNC di Samarinda, Selasa.

Hal itu dikatakan Bambang ketika menjadi pembicara dalam acara Ekspose Pendampingan oleh TNC kepada perusahaan pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA). Ekspose yang dihadiri sejumlah pihak terkait ini digelar di Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim.

Menurutnya, pendampingan oleh TNC pada perusahaan pemegang IUPHHK-HA dengan harapan dapat menyukseskan program Green Growth Compact (GGC) di Provinsi Kaltim.

Ia membandingkan penggunaan bulldozer maupun monocable. Faktor resiko dampak penebangan menggunakan bulldozer dengan kerusakan lorong seluas 4-6 meter, sementara menggunakan monocable kerusakan lorong hutan hanya sekitar 1 meter.

Pengurangan resiko kerusakan dapat diminimalisir karena dengan menggunakan mesin pancang hanya membutuhkan seutas tali sling sepanjang sekitar 100 meter. Tali ini berfungsi menarik kayu log hasil tebangan.

Sedangkan jika menggunakan bulldozer, maka kendaraan berat dan besar itu harus masuk mendekati log hasil tebangan, sehingga kerusakan hutan yang ditimbulkan semakin besar.

Dintinjau dari faktor sosial, lanjutnya, penggunaan satu bulldozer hanya membutuhkan dua tenaga kerja, sementara satu monocable butuh 5-6 orang tenaga kerja sehingga hal ini menjadi solusi mengatasi krisis ekonomi global.

Untuk produktivitas, ketika menggunakan bulldozer menghasilkan 10-15 pohon per hok (7 jam kerja) sepanjang 500 meter dengan kerekan (mesin derek) 25 meter manuver tinggi, dan membutuhkan biaya produksi Rp130.000-Rp205.000 per meter kubik.

Sedangkan jika menggunakan monocable menghasilkan 4-5 pohon per hok untuk jelajah sepanjang 100 meter dengan kerekan 100-200 meter manuver rendah, dan membutuhkan biaya produksi Rp90.000-Rp100.000 per meter kubik.

"Penggunaan monocable winch sudah kami lakukan uji coba di sejumlah IUPHHK-HA di Kaltim, diantaranya di PT Gunung Gajah Abadi dan PT Inhutani I. Sedangkan untuk uji coba ril carbon sudah kami lakukan di PT Karya Lestari," ucap Bambang.(*)

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2017