Frankfurt (ANTARA Kaltim) - Barong Osing Banyuwangi turut memeriahkan Festival Tepi Sungai (Museums Uferfest) di Frankfurt, Jerman, Sabtu, dengan turun ke jalan sepanjang panggung Indonesia diiringi musik gamelan khas Banyuwangi.

Satu sosok Barong dan dua sosok menyerupai ayam itu langsung menarik perhatian pengunjung yang kebanyakan warga Jerman dan sekitarnya.

Setiap kali melewati deretan pengunjung panggung Indonesia seluas 800 meter persegi itu, sejumlah pengunjung langsung berinteraksi dengan memotret tiga sosok barong yang merupakan sosok asing bagi mereka.

Diiringi sejumlah pemain gamelan yang membawa gong dan gendang, ketiga sosok barong tersebut terus berjalan sambil menari, dan sesekali melayani berfoto bersama pengunjung.

Berbagai acara memang sengaja ditampilkan di panggung Indonesia, seperti goyang "poco-poco" yang melibatkan para warga Indonesia yang tinggal di Jerman.

Aksi penari "poco-poco" yang menggunakan kain ulos itu menarik perhatian pengunjung setempat untuk ikut menari bersama. "Kita memang sengaja melibatkan warga Indonesia di Jerman ini untuk ikut berpartisipasi," kata Ketua Komite Pertunjukan, Pameran dan Seminar Frankfurt Book Fair (FBF) 2015 Slamet Rahardjo.

Selain tarian "poco-poco", warga dan pelajar Indonesia di Frankfurt juga menyajikan permainan angklung asal Jawa Barat dan tari saman asal Aceh.

Sehari sebelumnya, menjelang pembukaan Museum Uferfest, dua sosok "robot" Gatotkaca dan Barong, juga menarik perhatian pengunjung sepanjang sungai Main yang menjadi lokasi festival.

Dua "robot" yang diperankan oleh manusia itu tentu saja menarik perhatian di depan panggung Indonesia di Museums Uferfest yang akan berakhir Minggu (30/8). Kesempatan langka itu tentu saja dipergunakan pengunjung terutama anak-anak untuk berfoto bersama.

"Robot" Gatotkaca dan Barong itu merupakan karya Wahyu Aditya dari HelloFest, dan menjadi pembuka tenda "Indonesia Motion Picture Arts" selama festival berlangsung.

Festival Tepi Sungai (Museums Uferfest) Frankfurt adalah acara seni dan budaya tahunan yang berlangsung setiap akhir pekan terakhir bulan Agustus.

Di tepi Sungai Main yang menjadi lokasi festival, memang berdiri sekitar 20-an museum. Berbagai stan dari berbagai negara hadir berpartisipasi.

Berbagai pertunjukan musik dan seni pun digelar di arena festival, di samping pameran serta souvenir dan kuliner yang dijajakan di stan-stan tersebut selama festival berlangsung, 28-30 Agustus 2015. Sedikitnya dua juta orang mengunjungi festival tersebut setiap tahunnya.    (*)

Pewarta: Arief Mujayatno

Editor : Amirullah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2015