Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur memetakan peluang-peluang dari sejumlah perjanjian perdagangan bebas untuk membantu produk unggulan lokal menembus pasar internasional.
"Melalui fasilitas tarif hingga nol persen dari perjanjian perdagangan yang dimiliki Indonesia saat ini, jalan menuju pasar global terbuka lebar sehingga permintaan tinggi terhadap produk tropis harus segera kita manfaatkan," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kaltim Heni Purwaningsih di Samarinda, Selasa.
Heni memaparkan, pemetaan peluang di kawasan pasar Asia saat ini difokuskan pada pemanfaatan jalur ASEAN atau ATIGA untuk menggenjot ekspor komoditas perikanan dan hasil hutan.
Peluang serupa juga terbuka di Jepang dan Korea Selatan melalui Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) serta Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) yang meminati produk perikanan daerah sekaligus memberikan akses teknologi manufaktur.
"Selain pasar tradisional, pemerintah daerah kini turut membidik pasar baru untuk memasarkan produk makanan olahan dan kerajinan tangan hasil karya para pelaku industri kreatif," ungkap Heni.
Menurut dia, kesepakatan IA-CEPA dengan Australia menjadi salah satu instrumen penting karena pengusaha lokal dapat menikmati tarif nol persen untuk memasarkan ragam komoditas tersebut.
Sementara itu, implementasi IUAE-CEPA mulai dimanfaatkan sebagai gerbang utama memasuki pasar Uni Emirat Arab dan kawasan Timur Tengah khusus bagi produk-produk daerah yang telah bersertifikasi halal.
Baca juga: Perjanjian Indonesia-AS tetap berlaku walau ada pembatalan tarif
Untuk memastikan barang yang diekspor memiliki daya saing kuat, strategi utama yang kini diusulkan pemerintah daerah adalah mendorong program hilirisasi industri secara masif.
Kebijakan ini menekankan agar hasil bumi yang dikirim ke luar negeri bukan lagi sekadar komoditas mentah, melainkan wajib berupa barang hasil olahan bernilai tambah tinggi.
"Transformasi struktural ekonomi daerah tersebut secara khusus menitikberatkan pada pengembangan ekspor komoditas non-minyak, gas bumi, dan non-batu bara yang berkelanjutan," jelas Heni.
Sebagai contoh pada sektor perkebunan, komoditas kelapa sawit didorong agar tidak hanya diekspor dalam bentuk minyak mentah atau CPO, melainkan ditingkatkan berupa produk turunan seperti RPDPO.
Bahkan seiring rencana pengurangan produksi pada sektor pertambangan, komoditas batu bara juga diarahkan agar mampu menarik investasi baru untuk pembangunan fasilitas pengolahan.
"Bukti nyata upaya mendatangkan investasi hilirisasi di Kalimantan Timur dapat dilihat dari kehadiran fasilitas smelter nikel yang beroperasi di kawasan Pendingin, Sanga-Sanga," ujar Heni.
Baca juga: Kaltim bahas peluang dagang dan pariwisata dengan Kazakhstan
Editor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026