Ulama Kalimantan Timur Kyai Haji Muhammad Ilmi menegaskan bahwa pelaksanaan ibadah puasa memiliki dampak besar dalam menumbuhkan rasa empati sosial dan membentuk kedisiplinan tinggi bagi umat Islam yang menjalankannya.
"Melalui rasa lapar dan dahaga, orang yang berkecukupan dapat merasakan penderitaan mereka yang miskin, sehingga diharapkan mampu melembutkan hati untuk lebih gemar berinfak dan menolong sesama," kata Kyai Ilmi saat menyampaikan kuliah subuh di Masjid Darunni'mah Samarinda, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa tujuan paling utama dari perintah berpuasa sebagaimana diisyaratkan secara jelas dalam Al-Quran adalah untuk mengantarkan seorang Muslim mencapai derajat takwa.
"Ketakwaan tersebut merupakan tolok ukur tertinggi sekaligus penentu tingkat kemuliaan seorang hamba di sisi Allah SWT," ucapnya.
Selain memberikan manfaat besar pada aspek spiritual, ibadah puasa ternyata juga menyediakan waktu istirahat yang sangat krusial bagi organ tubuh manusia.
Disampaikan Ilmi, sama halnya seperti sebuah mesin pabrik yang memerlukan jeda operasional agar tidak cepat rusak, sistem pencernaan manusia seperti lambung dan usus juga membutuhkan masa rehat dari tugas beratnya.
Baca juga: Niat puasa harus dilakukan setiap malam, menurut mazhab Syafi'i
Penghentian sementara proses mencerna makanan di siang hari tersebut terbukti secara medis mampu membuat kondisi organ dalam tubuh tetap kuat dan terhindar dari berbagai gangguan kesehatan.
"Dari sisi manajemen diri, ibadah tahunan ini secara otomatis melatih manusia untuk mematuhi aturan waktu yang telah ditentukan secara ketat saat pelaksanaan sahur dan berbuka," cakap Ilmi.
Keteraturan jam makan tersebut menjadi metode pembelajaran yang baik guna mencegah seseorang dari kebiasaan mengonsumsi makanan secara berlebihan yang berpotensi memicu berbagai macam penyakit kronis.
"Hikmah luar biasa lainnya dari menahan nafsu makan adalah terbangunnya jembatan kasih sayang antara mereka yang hidup berkecukupan dengan masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan ekonomi," ujarnya.
Lanjutnya, kesadaran empati selama bulan suci ini mendorong semangat umat Islam untuk lebih aktif membagikan rezeki kepada saudara-saudaranya yang sering mengalami kekurangan bahan pangan.
Setiap individu yang berpuasa diwajibkan untuk melatih kesabaran ekstra dengan cara menjaga fungsi seluruh anggota tubuh, termasuk menahan lidah dari perkataan dusta maupun kebiasaan mengumpat.
"Perlindungan terhadap anggota tubuh tersebut juga harus mencakup pengendalian mata dan telinga dari melihat serta mendengarkan hal-hal buruk yang tidak membawa manfaat," demikian Kyai Ilmi.
Baca juga: Idul Fitri diputuskan dalam sidang isbat 19 Maret
Editor : Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2026