Di Setabu, Sebatik Barat, Pulau Sebatik, di ujung Kalimantan Utara yang menghadap Sabah, Malaysia, perlindungan mangrove sudah melangkah jauh.
Bila di banyak tempat di pesisir Kalimantan, orang baru sadar hutan mangrove perlu dijaga dan dipelihara, namun di Setabu, tumbuhan khas pembentuk hutan mangrove seperti bakau (Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata), api-api (Avicennia), dan parepat (Sonneratia alba) tak hanya dijaga oleh manusia, tapi juga oleh teknologi dengan menggunakan sinyal satelit dan jaringan seluler.
“Kami kerjakan di sana Digitalisasi Konservasi Mangrove di Kalimantan Utara,” kata Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha di Balikpapan beberapa hari lalu.
Bahkan, menjaga mangrove Setabu adalah kerjasama internasional. Indosat mengerjakannya bersama GSMA (Global System for Mobile Communications Association), lembaga yang bermarkas di Inggris dan beranggotakan 400 perusahaan teknologi telekomunikasi serta 750 operator seluler dari seluruh dunia, termasuk Indosat.
Kemudian ada GIZ (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit), yaitu lembaga kerja sama internasional milik pemerintah Jerman yang bergabung atas mandat dari BMZ (Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan) sebagai mitra teknis dan pendukung pendanaan lewat GSMA Mobile Innovation Hub.
Lewat program digitalisasi itu, warga Setabu dilatih memetakan wilayah laut dan pesisir desanya menggunakan aplikasi QField dan data geospasial dari QGIS. Mereka mencatat formasi spesies, ketebalan vegetasi, kelompok usia pohon, hingga populasi satwa.
Pemetaan seperti ini biasa disebut pemetaan partisipatif, di mana warga sendiri yang mengerjakan dan menjelaskan bentang alam hidupnya sehari-hari. Lengkap dengan peruntukannya. Bahkan seringkali juga dengan legenda dan cerita yang tersimpan di dalamnya.
“Kami jadi tahu luas hutan mangrove kami, dan tahu persis juga kondisinya, dan ada di kawasan mana,” detil Kepala Desa (Kades) Setabu, Rambli.
Di wilayah laut dicatat kedalaman, arus, kondisi dasar laut semisal ada padang lamun atau terumbu karang. Juga turut dipetakan apa saja yang ada dalam bentang alam di pesisir dan pantai Setabu, termasuk pemukiman dan sarana-prasarana yang ada.
Maka didapatlah luas 335 hektare untuk luas seluruh lahan mangrove. Sebagian besarnya atau 150 hektare dalam kondisi baik, di mana pohon-pohon tumbuh padat dan rapat. Di sini juga banyak ditemui satwa seperti burung-burung, juga bekantan (Nasalis larvatus). Jadilah ini kawasan lindung.
Kemudian hutan mangrove dalam kondisi sedang seluas 40 hektare, di mana warga banyak memanfaatkan kawasan ini untuk kawasan wisata.
Terakhir ada 145 hektare lebih hutan mangrove yang sudah beralih fungsi menjadi tambak dan kawasan pemukiman. Rinciannya kawasan tambak udang seluas 85 hektare dan lahan budidaya rumput laut 60 hektare. Kawasan sedang dan sudah beralih fungsi ini menjadi kawasan budidaya.
“Kami juga sepakat bahwa mangrove yang tersisa, di mana pun lokasinya dari kawasan tersebut, kami akan jaga sebaik-baiknya. Kami hanya akan maksimalkan kawasan lahan yang sudah dibuka seperti tambak, tempat tambat perahu, atau pun pantai jemur rumput laut, untuk kebutuhan warga,” papar Rambli.
Seperti tersebut di atas, pemetaan wilayah laut dan pesisir Desa Setabu ini menggunakan aplikasi Qfield. Pemetaan juga dilengkapi sumber-sumber terbuka di internet seperti koordinat dari GPS dan data geospasial dari QGIS.
Aplikasi QField adalah aplikasi pengumpul data lapangan pemetaan yang dapat dijalankan di handphone berbasis android. QField tetap bisa bekerja walaupun sedang offline atau lepas dari sinyal seluler.
Bagi warga pemetaan partisipatif ini juga menghadirkan kesadaran baru, bahwa merekalah penjaga utama kawasan mangrove Setabu, karena merekalah yang tahu persis nilainya dan manfaatnya bagi mereka.
“Saya juga senang warga bisa berubah ke arah lebih baik,” kata Kades Rambli.
Sebelumnya, upaya konservasi adalah tantangan besar bagi warga. Setabu adalah desa penghasil rumput laut dan memiliki banyak tambak udang.
Hutan mangrove tanpa segan ditebang dan lahannya kemudian dijadikan tambak. Bahkan, sampai beberapa waktu lalu, sebagian warga percaya bahwa mangrove justru menurunkan produktivitas tambak. Pohon-pohon bakau dan api-api dibabat demi panen maksimal.
Karena itu, selain membawa program pemetaan partisipatif, Indosat bersama GSMA dan Universitas Borneo Tarakan juga memperkenalkan solusi berbasis Internet of Things (IoT).
Alat pemantau kualitas air dipasang di tambak-tambak yang berdekatan dengan hutan mangrove. Data dikirim ke kampus, diolah, lalu dibagikan ke petambak lewat ponsel.
Hasilnya menunjukkan bahwa bukan mangrove yang menurunkan hasil panen, melainkan kualitas air laut—yang dipengaruhi pH tanah tambak, oksigen terlarut, dan curah hujan.
“Jadi handphone itu tidak hanya bisa dipakai untuk menelepon, tapi juga bisa buat belajar dan berbagi data untuk kemajuan,” kata Senior Vice President Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saerang.
Dengan data itu, anggapan lama mulai bergeser. Petambak bisa mengambil keputusan lebih tepat, dan mangrove tak lagi dianggap musuh. Sebaliknya, ia menjadi pelindung alami dari abrasi dan polusi, sekaligus rumah bagi kepiting, ikan, dan burung-burung pesisir.
Kawasan mangrove di Setabu kini juga diakui sebagai desa wisata. Dengan informasi yang mudah diakses lewat internet, warga tahu bahwa menjaga mangrove berarti menjaga ekonomi. Wisata alam dan pendidikan mulai tumbuh, dan regenerasi ekosistem berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan.
Maka Setabu bukan hanya titik di peta. Dengan lebih kurang 1.500 penduduknya, ia adalah cerita tentang bagaimana perubahan bisa dimulai dari desa, dan bagaimana teknologi bisa menjadi alat untuk mengoreksi praktik lama, bahkan menciptakan tradisi baru yang lebih baik.
Optimisme dari Setabu pun menyebar. Banyak yang kini menaruh harapan pada mangrove. Di sepanjang perbatasan Kalimantan Utara, dari Sebatik hingga Krayan, konservasi pesisir mulai dilihat sebagai bagian dari ketahanan wilayah.
Sebelum akhir 2024, Pemerintah pusat melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan target rehabilitasi mangrove nasional, dengan Kalimantan sebagai prioritas.
Tapi di lapangan, keberhasilan bukan ditentukan oleh jumlah bibit, melainkan oleh siapa yang menanam dan siapa yang merawat.
“Kalau cuma tanam, itu gampang. Tapi kalau mau tumbuh, harus tahu kapan air naik, kapan tanah bisa ditanam, dan harus ada yang jaga, yang memelihara,” ujar Agus Bei, ahli mangrove di Balikpapan, penerima hadiah Kalpataru perintis lingkungan.
Di tengah rencana besar seperti IKN dan pembangunan pelabuhan perbatasan, desa-desa seperti Setabu mengingatkan bahwa ekologi bukan sekadar latar belakang pembangunan. Ia adalah fondasi. Dan mangrove, dengan akar yang menahan tanah dan daun yang menyaring udara, menjadi simbol dari keseimbangan itu.
Konservasi di Setabu bukan hanya soal menyelamatkan pohon. Ia adalah cara warga menyelamatkan masa depan mereka sendiri—dengan teknologi, dengan tradisi, dan dengan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari sebuah desa di ujung negeri.
Editor : M.Ghofar
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2025