"Selain berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas per hektare, kami juga harus mengoptimalkan lahan sawah, mencegah alih fungsi sawah, dan mengintensifkan pemupukan serta penanganan hama," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kaltim H Ibrahim di Samarinda, Sabtu.
Terkait dengan optimalisasi lahan, lanjutnya, pada 2012 ditargetkan teroptimalisasi sawah seluas 4.200 hektare dengan rincian, seluas 4.000 hektare yang pendanaannya bersumber dari pemerintah pusat melalui APBN, kemudian sisanya yang 200 hektare bersumber dari APBD Kaltim.
Optimalisasi lahan seluas itu, ditargetkan agar para petani paling tidak dapat menghasilkan 20.160 ton beras siap konsumsi per panen, yakni dengan estimasi 4,8 ton beras per hektare.
Apalagi jika petani secara keseluruhan dapat memanen hingga tiga kali dalam setahun, maka produksi beras Kaltim bisa mencapai 60.480 ton per tahun dari lahan yang teroptimalisasi itu.
Guna mewujudkan hal itu, maka para petani juga perlu mendapat bantuan dari pemerintah, di antaranya adalah terkait pembenihan, pembinaan kelompok tani, dan pemberian kredit lunak.
Optimalisasi lahan sawah seluas itu sebagai upaya untuk meningkatkan produksi beras, termasuk untuk mendukung program ketahanan pangan nasional yang telah dicanangkan Menteri Pertanian, yakni yangtertuang dalam RPJMN 2010-2014.
Dalam optimalisasi lahan tersebut diharapkan para kelompok tani mampu meningkatkan produksinya, yakni dari sebelumnya yang hanya satu kali panen dalam setahun, dapat meningkat menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun sehingga produksi beras di Kaltim meningkat.
Selama ini, lanjutnya, umumnya kebiasaan yang terjadi pada petani Kaltim adalah, mereka meninggalkan dan menunggu musim tanam tahun berikutnya setelah melakukan panen, atau petani tidak berupaya mengolah lahan yang telah digarap sebelumnya.
Dalam kaitan itu, maka petani yang terbiasa dengan pola lama tersebut akan diberikan pendidikan, termasuk diberikan bantuan untuk melanjutkan pengolahan sawah yang ada, yakni pemanfaatan lahan dengan pemupukan dan lainnya.
Jika pola itu diterapkan, maka yang akan untung adalah para petani tersebut, karena mereka dapat melakukan panen dua hingga tiga kali dalam setahun di lahan yang sama. (*)
Pewarta: M Ghofar: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.