"Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan ini, Insya Allah saya akan menjaga nama baik karena sudah dilibatkan sebagai anggota kekerabatan Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur," kata Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak di Tanjung Redep, Senin.
Gubernur menyatakan bahwa tradisi seperti itu bukan untuk mempertahankan feodalisme namun lebih kepada mempertahankan tradisi budaya sebagai salah satu aset nasional.
Khususnya, ujar dia, dalam upaya mengembangkan sektor pariwisata maka berbagai budaya daerah perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai bagian dari budaya nasional.
Pemberian gelar itu diberikan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-58 dan Kota Tanjung Redeb ke-201 pada 2011.
Pemberian gelar itu, sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Awang Faroek Ishak dalam mendukung pembangunan di "Bumi Batiwakal" itu.
Prosesi nya pun berlangsung sederhana dan hikmat didalam keraton tersebut dan disaksikan oleh Bupati Berau H Makmur HAPK, Wakil Bupati H Ahmad Rifai, Ketua DPRD Berau Hj Elita Herlina, unsure muspida, tokoh adat, para pejabat Pemda Berau dan para undangan yang hadir dalam acara tersebut.
Secara simbolis Gubernur mengenakan baju dan songkok kebesaran raja ke tujuh. Kemudian Gubernur juga menerima sebilah keris, sebagai simbol seorang raja, serta sertifikat penghargaan yang ditandatangani oleh para tokoh pemangku adat.
Usai prosesi tersebut, dilanjutkan Gubernur secara simbolis juga mendudukli kursi singasana seorang raja, dengan didamping para pemangku adapt dan pengawal kerajaan.
Menurut ketua Pemangku Adat Keraton Sambaliung dan Keraton Gunung Tabur H Aji Bambang Kusuma, pemberian gelar kepada Gubernur itu tidak lah berlebihan, karena sesuai amanah raja pendahulu, gelar raja tersebut patut diberikan kepada orang yang dianggap banyak berjasa terhadap masyarakat, menuju keberhasilan disegala bidang.
"Karena itu, sesuai anamah pendahulu kami, gelar itu kini kami berikan kepada Gubernur. Semoga amanah itu dapat diemban nya dengan baik, sesuai harapan masyarakat Kaltim," katanya.
Salah satu keturunan Sultan Aminudin, yakni sultan terakhir Keraton Sambaliung, H Datu Hasanudin menjelaskan bahwa bahwa proses ini sudah menjadi budaya.
"Namun gelar itu hanya untuk orang-orang yang dinilai berhasil melakukan yang terbaik untuk masyarakat. Karena itu pembinaan kepada nilai-nilai sejarah kepada generasi penerus dianggap penting, agar adat dan budaya seperti ini ada yang mewarisinya, dan tidak tergilas zaman," ujarnya.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.