Bontang (ANTARA News - Kaltim) - Pihak Pertamina mengaku sudah menambah stok BBM pada sejumlah SPBU di Kalimantan Timur namun ternyata beberapa daerah masih terjadi krisis, termasuk di Kota Bontang.
  
Dilaporkan di Bontang, Rabu antrian panjang terjadi pada beberapa SPBU di "KOta Khatulistiwa" itu menandakan masih terjadi krisis BBM.
 
Hikma, seorang sopir PT. Kaltim Methanol Industri Bontang Kaltim mengaku butuh waktu berjam-jam ikut antri  untuk mendapatkan bensin bagi mobil kantornya.

Devi, staf SPBU Kopkar PKT di km 6 Belimbing mengaku bahwa kondisi itu karena terjadi penurunan pasokan bensin dari rata-rata 600 tangki (per tangki berisi 10 ribu liter) menjadi kisaran 530 tangki dalam sebulan untuk empat bulan terakhir.
   
Kendala antrian bensin juga dipicu jam kedatangan pasokan bensin yang tidak menentu, kadang jam 11.00 Wita, 01.00 atau 03.00 Wita.

"Karena SPBU kami buka 24 jam, begitu datang bensin ya langsung dilakukan penjualan," terang Devi.

"Karena penjualan 24 jam non stop itulah membuat penjualan lebih cepat berlangsung dan langsung habis yang kadang membuat konsumen tidak mendapat jatah saat membeli BBM dan mereka merasa kecele," ujarnya menambahkan.

SPBU milik Kopkar PKT ini menyiasati konsumen yang berlangganan dengan kepemilikan kupon bagi kendaraan sebagai jatah dari instansi atau perusahaan, dengan menganti uang cash bagi pelanggan yang kecele untuk pembelian di SPBU lainnya.
   
Lain halnya dengan SPBU Akawy yang memiliki pasokan BBM pagi dan malam, sehingga terkesan jarang kehabisan stok bensin.
   
Di sini terliat antrian cukup panjang  walau tidak sampai dijaga polisi siang malam seperti beberapa waktu lalu untuk pengamanan antrian.

Di Bontang selain SPBU Kopkar, SPBU Akawy, juga terdapat SPBU Tanjung Laut dan Agen BBM di Jl KS Tubun, SPBN Tanjung Limau yang khusus melayani nelayan.

Sebelumnya, pihak DPRD Kalimantan Timur mempertanyaan janji Pertamina yang akan mengatasi krisis BBM dengan menambah stok, kenyataannya kelangkaan masih terjadi di sepanjang jalur Kota Samarinda, Kota Bontang dan Kota Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.


Editor : Iskandar Zulkarnaen

COPYRIGHT © ANTARA 2026