“Kelompok ini sudah mampu mengelolaan peternakan khusus untuk penggemukan sapi dan setiap tahun menjual sekitar 40 ekor jantan,†kata Kepala Dinas Peternakan Kaltim, H Ibrahim, di Samarinda, Jumat.
Kemampuan daerah untuk mencukupi kebutuhan protein asal daging hanya sekitar 2.202 ton per tahun, atau setara dengan 13.564 ekor sapi potong sehingga masih terjadi kekurangan pasokan sebanyak 5.858 ton per tahun yang setara dengan 28.905 ekor sapi.
Dia berharap agar para peternak terus meningkatkan populasi sapi. Sehingga kelompok tani Bukit Pinang, selain sebagai pusat pembibitan juga tempat penggemukan yang bisa dijual setiap saat, sekaligus meningkatkan pendapatan, baik harian, mingguan maupun tahunan.
"Meskipun tempat sampah, tetapi makanan sapi yang tersedia sudah dipilah-pilah oleh peternak dari pasar induk. Sehingga tidak tercampur dengan bahan-bahan berbahaya lain. Selain itu kesehatan sapi juga dicek rutin oleh dokter hewan sehingga dijamin aman," katanya.
Diprogramkan juga agar nantinya Kelompok Tani Bukit Pinang juga dibekalai pengetahuan dan teknologi bio gas yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Bukit Pinang, Rasyidin,menjelaskan. kelompok ini awalnya hanya memiliki 22 ekor sapi bantuan Pemprov Kaltim, sekarang berkembang menjadi 125 ekor yang merupakan milik dari 20 peternak.
Dengan kondisi itu, berternak sapi bukan usaha sampingan tetapi menjadikan usaha pokok karena menjanjikan. Dalam satu tahun perekornya bisa mendapat keuntungan sekitar empat juta rupiah.
Awalnya kelompokini adalah para pemulung, setiap hari hanya mengais sampah. Namun berkat bantuan sapi, kini ekonomi mulai meningkat dan rata-rata peternak memiliki tabungan untuk masa depan keluarga.
"Alhamdulillah berkat bantuan Pemprov Kaltim. Sekarang ekonomi mulai membaik bisa menyekolahkan anak bahkan ada yang kuliah. Satu orang bisa memiliki lima ekor sapi dan menjual juga tidak repot banyak yang datang kemari, " kata Rasyidin.
Para peternak juga tetap berkomitmen mempertahankan indukan untuk tidak dijual, setelah lima kali beranak baru dijual karena dinilai sudah tidak produktif.
"Kepercayaan pemerintah terhadap kelompok kami yang memberikan dukungan dan bimbingan ilmu. Tentunya tidak kami sia-siakan dan akan ditularkan sehingga bermanfaat bagi orang lain khususnya peternak sapi," kata Rasyid.
Salah satu daerah yang sukses dalam pengembangan ternak memanfaatkan TPA adalah Kota Bontang. Peternak sapi di Bontang (Kaltim) berhasil menggemukan sapi dengan memanfaatkan limbah di TPA Bontang.
Hal itu diakui Abdullah Pengawas TPA yang sekaligus Ketua Kelompok Ternak Sapi Bontang sehingga mereka kini berhasil mengembangkan ternak sapi bantuan pemerintah itu.
Misalnya, mereka pada 2008 lalu mendapat bantuan sapi ternak dari Provinsi Kaltim sebanyak 22 ekor terdiri 20 ekor betina dan dua pejantan. Namun, kini sudah berkembang menjadi 56 ekor sapi belum termasuk anak sapi yang baru lahir berkat memanfaatkan limbah itu.
Editor : Iskandar Zulkarnaen
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.