Pada nomor ini, tim panjat tebing Kaltim yang diperkuat Jamal Al Hadad, Bayu Paracela, Angga Cahya, dan Efrian Tahulending harus mengakui keunggulan tim Jawa Tengah yang meraih medali emas, sementara medali perak direbut Jawa Timur.
Menurut pelatih panjat tebing Kaltim Hadi Nugraha, persaingan nomor boulder putra berlangsung cukup ketat, bahkan dari hitungan tim panjat tebing Kaltim dan dua kompetitornya tidak jauh berbeda.
"Dua pemanjat kita berhasil mencapai top (puncak dinding), hanya Jawa Tengah dan Jawa Timur memperoleh top dengan jumlah percobaan yang sedikit. Tim Jawa Tengah dua kali percobaan, Jawa Timur empat percobaan, sementara Kaltim lima percobaan," tegasnya.
Ia menilai hasil yang didapat anak asuhnya sudah maksimal, karena sejumlah faktor juga bisa menjadi penyebab hasil yang kurang memuaskan tersebut, di antaranya kondisi hujan dan juga perbedaan sarana tanding dengan latihan.
"Selain hujan yang menyebabkan perlombaan ditunda, variasi volume di sini (jalur panjat) tidak semuanya kami punya," jelasnya.
Hadi mengakui bahwa boulder beregu putra merupakan salah satu andalan untuk merebut medali emas, namun hujan yang mengguyur arena perlombaan di Lembang mengakibatkan jadwal lomba harus ditunda sekitar satu jam.
Selain nomor boulder beregu putra, pada hari pertama perlombaan panjat tebing juga digelar nomor lead beregu putri.
Pada nomor ini, wakil Kaltim gagal meraih medali setelah hanya berada di posisi keenam.
Medali emas direbut DKI Jakarta, sementara Jawa Tengah dan tuan rumah Jabar masing-masing memperoleh medali perak dan perunggu.
Panjat tebing akan melanjutkan perlombaan pada Senin (19/9) dengan empat nomor, yakni lead perorangan putra, boulder perorangan putri, dan speed perorangan putra-putri. (*)
Pewarta: ArumantoEditor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.