Balikpapan (ANTARA) - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan mendorong peningkatan literasi digital bagi anak-anak sebagai upaya perlindungan dari ancaman kejahatan siber.
"Upaya perlindungan ini sejalan dengan program prioritas Wali Kota Balikpapan, yakni memperkuat pemenuhan hak-hak anak dan menciptakan ekosistem Kota Layak Anak (KLA)," kata Sekretaris DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni Djufril Larose, di Balikpapan, Senin (30/6).
Ia mengatakan bahwa ancaman kejahatan siber kini semakin kompleks, dan anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan karena belum memiliki kapasitas memadai dalam memilah konten maupun memahami risiko dunia maya.
“Cyber crime bukan lagi isu orang dewasa. Anak-anak juga rentan menjadi korban karena mereka belum memahami risiko interaksi digital secara utuh,” ujarnya.
Nursyamsiarni menjelaskan dalam rangka membangun kesadaran itu, DP3AKB menggelar workshop bertajuk Pemenuhan Hak Anak Mencegah Terjadinya Cyber Crime pada Anak di Kota Balikpapan yang diikuti oleh ratusan pelajar dari berbagai sekolah menengah.
Workshop tersebut dirancang sebagai wadah edukasi dan diskusi yang menempatkan anak sebagai subjek perlindungan, sekaligus penggerak literasi digital di lingkungan sekitarnya.
Menurutnya workshop tersebut adalah bentuk ikhtiar bersama agar anak-anak Balikpapan terlindungi dari ancaman digital yang makin mengkhawatirkan, terutama karena tingginya intensitas penggunaan gawai di kalangan anak.
Ia menyebutkan sebanyak sepuluh sekolah dilibatkan secara langsung. Masing-masing mengirim perwakilan yang nantinya akan difasilitasi menjadi juru bicara sebaya.
Para siswa tersebut, lanjutnya, akan dibekali dengan pemahaman tentang jenis-jenis kejahatan digital, teknik pencegahan, hingga cara membangun interaksi aman di ruang maya.
Mereka diharapkan menjadi agen perubahan yang mampu menyampaikan pesan-pesan perlindungan anak ke komunitas sekolah dan keluarga.
“Melalui peran anak-anak sebagai agen perubahan, kita berharap pesan tentang perlindungan anak tidak berhenti di forum ini saja, tetapi menyebar ke sekolah, rumah, dan komunitas,” ucapnya.
Nursyamsiarni menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua, tenaga pendidik, serta komunitas digital dalam menciptakan ruang yang aman, sehat, dan ramah anak di era internet.
"Dengan kegiatan ini, DP3AKB Balikpapan berharap terbangun kesadaran kolektif untuk menjaga hak-hak anak dari ancaman kekerasan berbasis teknologi, serta memperkuat budaya digital yang lebih etis dan bertanggung jawab," kata dia (Adv).
