"Selama ini kami tidak diperhatikan oleh pemerintah sehingga pertanian di sini tidak bisa maju, padahal jika pemerintah mau memberikan bantuan bibit dan pupuk, saya yakin pertanian di sini lebih maju karena warganya giat bekerja," kata Rohayatin, anggota Kelompok Tani Marga Jaya di Kota Bangun, Rabu.
Dia juga mengatakan bahwa selama ini pihaknya kerap mengajukan proposal bantuan kepada dinas terkait di Provinsi Kaltim melalui dinas terkait di kabupaten, tetapi selalu tidak mendapat jawaban memuaskan sehingga warga semakin sulit memajukan pertaniannya.
Menurut dia, untuk mendapatkan bibit baik karet maupun ikan nila, pihaknya harus membelinya dengan harga mahal dan jauh sehingga hal itu sangat menyita waktu dan harus mengumpulkan uang cukup lama.
Misalnya, untuk membeli bibit ikan nila, warga setempat harus membeli ke Loa Janan, Loa Kulu, dan sekitarnya yang jarak tempuh dari desanya sekitar 80 kilometer, sedangkan kondisi jalannya banyak yang rusak sehingga waktu tempuhnya jadi lebih lama.
Menurut dia, harga bibit nila yang dibeli di Loa Janan senilai Rp200 per ekor, sedangkan kolam ikan yang dimiliki idealnya membutuhkan bibit sebanyak 10.000 ekor agar hasil yang dicapai bisa memuaskan.
Ini berarti dia harus mengeluarkan uang sebesar Rp2 juta, yakni dari perhitungan Rp200 per ekor dikali 10.000 ekor bibit nila.
Bagi petani gurem seperti dia, uang senilai Rp2 juta itu sangat besar. Apalagi untuk memelihara nilai sebanyak itu dibutuhkan pakan pelet yang harganya juga terlalu mahal agar kualitas panen memiliki daya saing, sehingga dia mengaku berat untuk membelinya.
"Kami tidak minta apa-apa dari pemerintah, kami hanya minta bibit dan pakan agar pertanian di desa kami maju. Lagi pula, untuk memajukan sektor pertanian adalah tanggung jawab pemerintah sehingga kami merasa berhak untuk meminta bantuan," kata Rohayatin.
Dia juga mengatakan bahwa jumlah warga binaan di Kelompok Tani Marga Jaya itu sebanyak 25 kepala keluarga (KK), sedangkan total jumlah penduduk di desa itu sekitar 750 KK yang sebagian besar penghasilannya dari hasil tani. (*)
Pewarta: M GhofarEditor : Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.