Nunukan (ANTARA Kaltim) - Memasuki hari kelima bulan suci Ramadhan, harga cabai rawit di Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara menembus harga Rp70.000 per kilogram.

Sumiati, pedagang bumbu masak Pasar Inhutani Kabupaten Nunukan, Senin, menyatakan melonjaknya harga cabai rawit disebabkan berkurangnya pasokan masuk ke wilayah itu sejak dua pekan lalu.

Padahal, kata dia, selama bulan suci Ramadhan 1434 Hijriyah ini masyarakat setempat mengeluhkan tingginya harga cabai yang merupakan kebutuhan pokok sehari-hari.

Bukan hanya masyarakat selaku konsumen yang mengeluhkan naiknya harga cabai, tetapi pedagang pun turut merasakan dampaknya, ujar Sumiati.

"Jangankan masyarakat yang mengeluhkan semakin tingginya harga cabai tapi pedagang pun ikut merasakannya," katanya.

Sumiati mengatakan, cabai rawit yang dijual sejak beberapa hari terakhir merupakan hasil perkebunan petani setempat.

Ia mengakui cabai rawit yang dijual pedagang di sejumlah pasar di Kabupaten Nunukan selama ini mengandalkan pasokan dari Sulawesi Selatan, sehingga apabila tidak ada yang masuk menyebabkan harga melonjak.

Terkait dengan kenaikan harga sejumlah bumbu masak di wilayah, seorang agen bernama Hamsah mengatakan, kurangnya pasokan dari Sulawesi Selatan akibat meningkatnya harga di daerah itu. (*)


Pewarta: M Rusman
Editor : Arief Mujayatno

COPYRIGHT © ANTARA 2026