Ersyani menjelaskan, tujuan pembangunan jembatan pendamping dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan kendaraan sehingga lalu lintas menjadi lancar, apalagi jalan poros Palaran sudah ramai dilalui kendaraan angkutan pelabuhan.
Pelaksanaan proyek ini satu paket dengan proyek peningkatan jalan poros Palaran dengan nilai kontrak Rp358 miliar melalui dana APBD Kaltim dengan pola multiyears (tahun jamak) yakni anggaran 2011, 2012, 2013 dan 2014.
Jembatan ini lanjut dia, dibangun dengan tipe yang lebih baik dibanding jembatan sebelumnya. Jembatan ini dibangun dengan tipe A, bukan lagi tipe B. Lebar jembatan pendamping ini tujuh meter. Lebih lebar dari jembatan lama yang hanya enam meter dan masih bertipe B. Panjang jembatan pendamping ini sama, yakni sekitar 60 meter.
Selain itu, Pemprov juga membangun infrastruktur jalan poros Palaran sebagai jalur lalu lintas utama angkutan peti kemas, dengan meningkatkan kelas jalan provinsi dari kelas III menjadi kelas II sepanjang 18 kilometer dengan cor beton (rigid pavement) mulai Samarinda Seberang hingga Terminal Peti Kemas (TPK) Palaran.
"Pembangunan jalan tersebut sudah mencapai 77 persen, sehingga target penyelesaian pembangunannya pada akhir 2013 optimis bisa tercapai," ungkapnya.
Sementara itu tokoh masyarakat Palaran, Purwanto mengatakan dirinya merasa bangga dengan kemajuan pembangunan infrastruktur Palaran, baik jembatan, jalan maupun jalan tol.
"Meskipun pembangunan jalan belum selesai, masyarakat harus bersabar karena masih proses, Namun saya percaya Gubernur Awang Faroek serius mendengar keluhan masyarakat," ungkapnya. (Humas Prov Kaltim/Sar)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.