Samarinda (Antaranews Kaltim) - Komunitas Gerakan Merawat dan Menjaga Parit (Gemmpar) Kota Samarinda, Kalimantan Timur, prihatin dengan kondisi parit yang dipenuhi tumpukkan sampah dan sedimentasi yang menghambat perjalanan air sehingga menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di Kota Samarinda.

"Tiap kali saya masuk ke saluran parit yang atasnya tertutup rapat, bahkan ada yang disemen, sedimen dan tumpukan sampahnya begitu tinggi. Itulah yang membuat saya sedih dan menangis dalam hati," ujar Ketua Gemmpar Samarinda Khairil Marzuki Tanjung di Samarinda, Senin.

Kesedihaan mendalam itu bukan hanya ia rasakan sendiri, namun juga dialami anggota Gemmpar dan para simpatisan yang sering membantunya masuk ke selokan untuk mengangkat tumpukan sampah, sedimen, dan bebatuan yang menyumbat perjalanan air.

"Kondisi inilah yang membuat Samarinda kerap banjir ketika hujan deras, karena air tidak bisa lancar mengalir dan membuat genangan besar," ujarnya.

Untuk itu, KHairil minta Pemkot Samarinda serius menangani drainase agar bisa mengatasi persoalan banjir, termasuk berharap kepada masyarakat untuk sadar lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

"Sambil menunggu kerja riil pemerintah menangani hambatan air di parit, kita sebagai masyarakat tentu tidak bisa berpangku tangan karena kita memiliki tenaga yang bisa disumbangkan. Makanya dengan anggota dan simpatisan yang terbatas, hampir tiap pekan kami menggelar giat mengangkat berbagai sumbatan dalam parit," katanya.

Sejumlah selokan yang sudah dibersihkan relawan Gemmpar, antara lain di Jalan Pramuka, Mugirejo, parit depan sekretariat PMI Samarinda (arah Jalan Dr Soetomo ke RSUD), Kebaktian, Merdeka, Pasundan, dan Cermai.

Ia menuturkan bahwa setiap selokan/parit yang dimasuki hambatannya bervariasi antara 25 persen sampai 75 persen. Bahkan ada beberapa titik yang hambatannya mendekati 100 persen dengan penghalang utama yang bervariasi pula.

Misalnya, di satu titik ada tumpukan batu bekas bangunan, kemudian batu tersebut menahan apa saja yang lewat sehingga tercipta sedimentasi dan aneka jenis sampah yang menyebabkan parit menjadi buntu.

Sementara di titik lain, lanjut dia, ada pipa PDAM yang melintang sehingga pipa tersebut menjadi tempat strategis bagi aneka jenis sampah bertahan yang kemudian menghambat perjalanan air.

"Dari hasil giat kami selama ini, rata-rata hambatan dalam drainase dan gorong-gorong nyaris sama, yakni sedimen dan sampah. Namun, ada beberapa yang ekstrem seperti parit di Jalan Kebaktian ditemukan tumpukan batu sisa proyek pembangunan, kemudian di Jalan Cermai ditemukan aneka sampah menggunung yang menyumbat air mengalir ke Sungai Mahakam," kata Khairil.(*)

Pewarta: M.Ghofar

Editor : Rahmad


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2018