Samarinda (ANTARA Kaltim) - Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur terus melakukan pembinaan demi menguatkan kelembagaan peternak sapi di Kelurahan Mugirejo, Samarinda, guna mendukung program daerah mewujudkan dua juta ekor sapi.
"Pembinaan kepada kelompok ternak di Mugirejo sudah kami awali pada 2015. Saat itu BI Kaltim membuatkan kandang sapi terintegrasi dengan kapasitas 48 ekor di kawasan Lubuk Sawah," ujar Manager Pelaksana Pengembangan UMKM Kantor Perwakilan BI Kaltim Lukas Haryono di Samarinda, Senin.
Hal itu dikatakan Lukas ketika mewakili Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim Muhammad Nur membuka Pelatihan Penguatan Kelembagaan dan Kemandirian Peternak Kluster Sapi di Mugirejo. Pelatihan tersebut diikuti 25 peserta.
Di lokasi tersebut, saat ini terdapat 150 ekor sapi yang dipelihara oleh Asosiasi Peternak Sapi "Damarwulan". Asosiasi itu mengayomi dua kelompok, yakni Kelompok Ternak Lubuk Makmur dan Kelompok Ternak Tani Makmur.
Rincian sapi sebanyak itu terdiri atas sapi betina 43 ekor, sapi jantan 74 ekor, dan anak sapi (pedet) 33 ekor.
Apabila sapi-sapi tersebut dikelola secara profesional, katanya, akan dapat meningkatkan nilai ekonomis bagi peternak sehingga pendapatan peternak meningkat.
Ia menjelaskan keberadaan sapi bukan hanya mampu menghasilkan daging dalam jangka panjang, tetapi kotoran dan urine sapi juga bisa mendatangkan uang setiap hari karena menjadi bahan pembuatan pupuk organik.
"Perhitungan kasarnya begini. Rata-rata satu sapi dewasa mampu menghasilkan 10 kilogram kotoran dan 5 liter urine, sehingga peternak bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp14,625 juta per hari hanya dari kotoran dan urine sapi," ucapnya.
Penghasilan sebesar itu diperoleh dari harga dari 1,17 ton kotoran dikali Rp10 ribu sama dengan Rp11,7 juta per hari. Kemudian untuk urine 5 liter, kali 117 ekor, kali Rp5 ribu, maka akan menghasilkan Rp2,925 juta per hari.
Hingga kini kotoran dan urine sapi masih diburu masyarakat karena menjadi pupuk organik bagi berbagai macam jenis tanaman, sehingga para peternak juga mendapat pembinaan untuk mengelola kotoran ternak.
"Berbagai upaya penguatan klaster sapi seperti ini sudah dan akan terus kami lakukan. Kami harapkan kompetensi dan pola pikir peternak semakin terbuka sehingga upaya peningkatan kesejahteraan bagi peternak segera tercapai," ujarnya. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2017
"Pembinaan kepada kelompok ternak di Mugirejo sudah kami awali pada 2015. Saat itu BI Kaltim membuatkan kandang sapi terintegrasi dengan kapasitas 48 ekor di kawasan Lubuk Sawah," ujar Manager Pelaksana Pengembangan UMKM Kantor Perwakilan BI Kaltim Lukas Haryono di Samarinda, Senin.
Hal itu dikatakan Lukas ketika mewakili Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim Muhammad Nur membuka Pelatihan Penguatan Kelembagaan dan Kemandirian Peternak Kluster Sapi di Mugirejo. Pelatihan tersebut diikuti 25 peserta.
Di lokasi tersebut, saat ini terdapat 150 ekor sapi yang dipelihara oleh Asosiasi Peternak Sapi "Damarwulan". Asosiasi itu mengayomi dua kelompok, yakni Kelompok Ternak Lubuk Makmur dan Kelompok Ternak Tani Makmur.
Rincian sapi sebanyak itu terdiri atas sapi betina 43 ekor, sapi jantan 74 ekor, dan anak sapi (pedet) 33 ekor.
Apabila sapi-sapi tersebut dikelola secara profesional, katanya, akan dapat meningkatkan nilai ekonomis bagi peternak sehingga pendapatan peternak meningkat.
Ia menjelaskan keberadaan sapi bukan hanya mampu menghasilkan daging dalam jangka panjang, tetapi kotoran dan urine sapi juga bisa mendatangkan uang setiap hari karena menjadi bahan pembuatan pupuk organik.
"Perhitungan kasarnya begini. Rata-rata satu sapi dewasa mampu menghasilkan 10 kilogram kotoran dan 5 liter urine, sehingga peternak bisa mendapatkan keuntungan sebesar Rp14,625 juta per hari hanya dari kotoran dan urine sapi," ucapnya.
Penghasilan sebesar itu diperoleh dari harga dari 1,17 ton kotoran dikali Rp10 ribu sama dengan Rp11,7 juta per hari. Kemudian untuk urine 5 liter, kali 117 ekor, kali Rp5 ribu, maka akan menghasilkan Rp2,925 juta per hari.
Hingga kini kotoran dan urine sapi masih diburu masyarakat karena menjadi pupuk organik bagi berbagai macam jenis tanaman, sehingga para peternak juga mendapat pembinaan untuk mengelola kotoran ternak.
"Berbagai upaya penguatan klaster sapi seperti ini sudah dan akan terus kami lakukan. Kami harapkan kompetensi dan pola pikir peternak semakin terbuka sehingga upaya peningkatan kesejahteraan bagi peternak segera tercapai," ujarnya. (*)
Editor : Rahmad
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Timur 2017